ISMA– Jika kalian pernah naik kereta di stasiun Cianjur atau di stasiun wilayah Daop 2 maka kalian sudah tak asing dengan alunan instrumental bel yang berisikan lagu daerah yaitu instrumen lagu Sabilulungan.

Tiga sosok dibalik alunan instrumen tersebut adalah Fauzi Zaki Razaq (18), Muhammad Farrel Nasrullah (18) dan terakhir yaitu Detyani Aulia Malik (17). Fauzi dan Detyani merupakan alumni dari MAN 1 Cianjur sedangkan Farrel alumni dari SMK 1 Pasundan Cianjur.

Proyek ini terjadi awalnya karena ketidaksengajaan belaka. Bermula dari Detyani yang berpendapat agar instrumental dari bel buatan Farrel tersebut dibuat secara mandiri tanpa mengambil dari platform lain yaitu youtube.

Sebelumnya Farrel pun sudah memikirkan hal tersebut. Namun, ia berfikir jika dikerjakan oleh sendiri maka belum tentu membuahkan hasil yang maksimal. Akhirnya Farrel berinisiatif untuk membuat tim dalam idenya tersebut.

Setelah perbincangan Detyani dan Farrel pada Whatsapp, akhirnya Detyani mencoba untuk menghubungkan Farrel dengan Fauzi. Fauzi merupakan seorang pengaransemen musik.

Walaupun dibilang pemula, tapi karya Fauzi tidak bisa dianggap remeh. Adapun beberapa karya aransemen yang ia buat adalah; Aransemen lagu Angkatan Granada MAN 1 Cianjur, Aransemen Lagu Angkatan Bigbang 2020, serta aransemen lagu angkatan terbaru yaitu Byzantium Generation. Selain itu, ia sering mengupload hasil aransemen dari lagu lain di akun instagram pribadinya.

Perlu diketahui, Farrel merupakan pembuat bel yang telah dipasang di 37 stasiun tersebut. Aransemen yang dibuat selain Sabilulungan adalah Manuk Dadali, Karatagan Pahlawan dan Ayun-Ayun Ambing. Farrel mengungkapkan bahwa lagu daerah harus terus dilestarikan oleh kita sebagai generasi muda.

“Dari generasi pertama bel ini dibuat aku memiliki tujuan untuk melestarikan lagu daerah serta memperkenalkan kembali lagu daerah pada generasi masa kini”, Kata Farrel.

Dalam tim ini, Detyani bertugas sebagai publikasi serta editor untuk musik video yang telah diupload pada channel youtube milik Farrel. Serta bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan saat pemasangan instrumen baru pada bel buatan Farrel tersebut.

Sebenarnya proyek ini telah berjalan dari bulan April 2020 namun karena pandemi, akhirnya ditunda terlebih dahulu. Pemasangan instrumen ini berawal di Stasiun Cianjur. Hingga pada tanggal 06 Juni 2020 mereka bertiga pergi ke tiga stasiun untuk pembaharuan instrumental tersebut.

Stasiun yang mereka datangi adalah Stasiun Padalarang dengan ciri khas lagunya adalah Sabilulungan, Stasiun Bandung Pusat dengan ciri khas lagunya adalah Manuk Dadali, dan terakhir yaitu Stasiun Kiara Condong dengan ciri khas lagunya adalah Karatagan Pahlawan.

Meskipun tiap stasiun memiliki ciri khasnya masing-masing, tetap Sabilulungan adalah instrumen pokok dari bel tersebut.

Rencananya instrumen untuk bel buatan Farrel ini akan dipasang di beberapa stasiun wilayah Daop 2 lainnya.

Mereka bertiga berharap agar karyanya bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, agar seluruh penumpang yang akan menaiki kereta bisa mengenal lagu daerah dari Jawa Barat.

Mereka bertiga membuktikan bahwa budaya daerah bisa tetap eksis di era modern ini. Asal kita sebagai anak muda bisa kreatif dan terus inovatif untuk memperkenalkannya. (Detyani Aulia)