ISMA-Salat Idul Fitri adalah salat dua raka’at yang dikerjakan setahun sekali oleh umat Muslim. Tepatnya pada tanggal 1 Syawal tahun Hijriyah. Kebiasaan pada hari Idulfitri adalah mereka mau tampil istimewa di hari istimewa. Lantas seperti apakah kesunnahan seorang muslim sebelum melaksanaan salat Idul fitri?

Pertama, sebelum berangkat ke tempat salat Idul Fitri disunnahkan untuk mandi. Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa salah satu mandi yang bernilai sunnah adalah mandi pada hari raya Idul Fitri. Dasarnya adalah atsar yang dilakukan oleh Umar Radhiyallahu Anhu.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
“Bahwa Abdullah Ibnu Umar ibnul Khattab radhiyallahuanhu mandi pada hari raya fithri sebelum berangkat shalat.

Kedua, memakai baju yang terbaik. Perlu diingat sebelumnya, bahwa yang terbaik tidak harus baru. Tidak ada paksaan untuk memakai baju baru di hari raya Idul Fitri, melainkan Rasulullah mengajarkan untuk mengenakan terbaik yang kita miliki. Disunnahkan juga memakai perhiasana yang terbaik yang ia punya. Hadits Nabi Muhammad menyebutkan:

كانَ لِلنَّبِيِّ جُبَّة يَلْبَسُهَا فيِ العِيْدَيْنِ وَيَوْمِ الجُمُعَةِ

Dari Jabir radhiyallahuanhu bahwa Nabi SAW memiliki jubah yang dikenakannya pada saat dua hari raya dan hari Jumat. (HR. Al-Baihaqi)

Ketiga, berparfum atau memakai wangi-wangian. Pada hari itu umat muslim akan bertemu dengan banyak saudara dan tetangga. Sehingga jika membawa aroma harum juga tersmasuk sedekah, menyenangkan orang yang ditemuinya. Dalam sebuh hadits dari Hasan As Shibti disebutkan:

اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْعِيْدَيْنِ اَنْ نَلْبَسَ اَجْوَدَ مَا نَجِدُ وَاَنْ نَتَطَيَّبَ بِاَجْوَدِ مَانَجِدُ وَاَنْ نُضَحِّيَ بِاَثْمَنِ مَا نَجِدُ

“Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami agar pada kedua hari raya memakai pakaian yang terbagus, memakai wangi-wangian yang terbaik dan berkurban dengan hewan yang paling berharga.” (HR.Al Hakim)

Keempat, makan atau sarapan sebelum berangkat ke masjid atau tempat salat Idul Fitri dilaksanakan. Layaknya Rasulullah yang tidak pernah absen untuk memakan beberapa kurma sebelum salat Idulfitri. :

عَنْ أَنَسٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Dari Anas bin Malik radliyallahuanhu berkata, “Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fithri hingga beliau memakan beberapa kurma. (HR. Bukhari)

Kelima, bertakbir hingga tiba waktu pelaksanaan salat Idulfitri. Sunnah ini bisa dikerjakan selama perjalanan dari rumah menuju masjid atau tempat salat Idulfitri. Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir”