ISMA – “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Cianjur, 14 Februari 2000

Allah itu baik. Pada tanggal 14 Februari 2000, dilahirkanlah seorang anak kecil bernama Fauzi Wahyu Zamzami. Nama tersebut diberikan oleh orang tuaku dari Bahasa Arab dengan makna yang sangat dalam. Fauzi dengan arti orang yang bahagia, Wahyu adalah nama ayahku yang selalu dikiaskan dengan arti perantara/penyampai, dan Zamzami adalah air zamzam.

Mereka menyimpulkan bahwa aku akan selalu menjadi penyampai suatu ilmu bagi orang lain hingga akan membuat orang lain bahagia. Tapi sayangnya, kelahiranku pada saat itu mengalami keanehan.

Kepalaku ketika bayi sangat berbeda dengan bayi pada umumnya. Agak sedikit benjol dan aneh hingga menyebabkan aku beberapa kali mengalami rasa sakit, bahkan orang tuaku bilang aku seperti orang yang akan meninggal beberapa kali.

Aku tak bisa membayangkan keadaan serta kondisi orang tuaku pada saat itu melihat anak pertamanya mengalami banyak masalah semenjak lahir.

Tapi, hari itu dikuatkan oleh seorang guru dari ibuku yang menjelaskan bahwa tipe anak seperti ini bukan tipe yang bermasalah, melainkan tipe anak yang akan tumbuh besar menjadi anak yang cerdas. Sesaat itulah orang tuaku mulai tenang dan percaya akan perkataan itu.

Cianjur, 2006-2012

Allah itu baik. Tepat di tahun 2006, aku mulai memasuki bangku Sekolah Dasar. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk bisa sekolah di SDN Cibodas walaupun kondisi ekonomi keluargaku saat itu pas-pasan. Aku masih ingat, ayahku seorang pegawai Telkom yang suka berangkat kerja mengenakan motor. Ibuku merupakan seorang ibu rumah tangga yang selalu mengajarkanku mengaji dan pelajaran-pelajaran SD.


Aku terlahir sebagai orang yang tidak bisa menyebutkan huruf “R” atau didaerahku lebih dikenal dengan orang cadel. Selain itu, aku juga merupakan orang dengan mata yang sipit dan tidak seperti mata orang Indonesia pada umumnya.

Kedua kondisi itu membuatku sering mendapatkan bullying selama di SD. Tidak sedikit teman sebaya dan kakak kelasku mengejekku karena kondisi tersebut. Aku sering sekali menangis, karena sering sakit hati dan pernah memutuskan untuk keluar sekolah.

Sudahlah abaikan, pada masa itu aku mencoba untuk kuat. Aku bukan tipe orang yang dimanja oleh orang tua ketika ingin membeli sesuatu maka akan mereka belikan. Oh tidak, untuk jajan yang enak saja saya harus berusaha mengambil klep (Semacam karet dalam gas elpiji) terlebih dahulu dengan bayaran 1 klep Rp. 100 karena pada waktu itu banyak gas yang tidak ada klepnya, bahkan beberapa kali aku mencari botol dan plastik di rumah dan di luar rumah hanya untuk dijual ke Jual Beli Barang Bekas. Tapi hal itu mengajarkan aku untuk mandiri.

Tepat di tahun 2007, ibuku melahirkan adikku seorang perempuan dengan nama Nazwa Wahyu Azzahra. Hari itu kami sekeluarga merasa bangga, namun disisi lain karena keadaan ekonomi kita yang tergolong masih biasa saja membuat orang tuaku bingung. Disaat itu, aku masih ingat setiap kali mau bepergian ke luar, pasti kita selalu naik motor dibonceng 4 orang.

Ah rasanya waktu itu aku selalu ingin mengeluh karena selalu kebagian duduk di depan yang ketika ada turunan pasti berasa akan jatuh.
Walaupun begitu, semasa 6 tahun di Sekolah Dasar aku termasuk murid dengan lulusan terbaik karena pernah peringkat 1 dan 2 dari kelas 1 SD-6 SD. Selain akademik, aku pun sering mendapatkan juara di berbagai lomba seperti pidato, membaca puisi, MTQ, dakwah, cerdas cermas, calistung, dan sebagainya. Sampai sertifikat dan piala di sekolah dan rumah begitu banyak. Aku bersyukur karena itu membuat orang tuaku bahagia.

Cianjur, 2012-2017

Allah itu baik. Tepat di tahun tersebut aku lulus Sekolah Dasar dan melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Ittihad hingga SMA. Hal yang tak pernah hilang melekat dalam kehidupanku adalah bullying yang tetap aku rasakan dari SD hingga SMA. Pada masa itu, SMP dan SMA merupakan masa bullying yang sangat keras bagiku.


Di SMP, aku merupakan orang yang pendiam dengan segudang mimpi. Tapi sayang, bahasa sunda menjadi faktor utama aku ingin ke luar pada saat itu. Ya mengapa tidak ? hampir setiap malam selama 2 tahun, aku selalu mendapatkan hukuman karena selalu berbahasa sunda.

Aku tidak bisa sama sekali bahasa inggris, apalagi bahasa arab. Hingga pada saat itu aku mulai belajar dan bekerja keras yang menyebabkan nilai ujian bahasaku terbesar kedua. Orang-orang disekelilingku sangat aneh dan mencoba mencari kesalahanku dengan berbagai macam cara, aku tak tau mengapa itu bisa mereka lakukan, Mulai saat itulah, aku bisa berubah, berbicara depan banyak orang menggunakan bahasa arab dan inggris, hingga sering mengikuti lomba dan mendapatkan juara.

Diakhir SMP, setiap orang ditanya “cita-citamu apa?” hampir setiap orang menjawab sama kalau tidak guru, ya pengusaha, ustadz, dan sebagainya. Aku merupakan orang yang paling beda yaitu aku ingin menjadi Duta Besar Indonesia dan juga keliling dunia, Semua orang disekelilingku bahkan guruku pun aneh karena memang di pondokku belum ada sejarah bahwa lulusannya bisa keliling dunia atau bahkan jadi Duta Besar. Sehingga Bullying terus menghampiriku semenjak itu.


Memasuki awal SMA, aku mulai menetapkan impian untuk bisa keliling dunia dan juga kuliah di luar negeri. Perjuangan aku awali dengan mendaftar beberapa pertukaran pelajar semasa SMA, namun nyaris gagal, maklum beasiswa pasti ketat. Aku selalu menulis semua impianku di kertas dan menempelkannya depan lemariku.

Anehnya, tidak sedikit orang yang menghina, meremehkan, dan bahkan membakar kertas itu. Aku pun tak tau mengapa, mungkin mereka merasa terganggu. Tepat pada saat itu, aku diangkat menjadi bagian bahasa paling muda dan Ketua EAC yang anggotanya kakak kelas semua.

Itu cobaan berat bagiku, tapi aku yakin ini adalah jalan terbaik bagiku sebagai seorang pelanggar bahasa dulunya dan menebus dosanya dengan menjadi bagian bahasa. Setahun kemudian, aku diangkat menjadi Ketua Bahasa dan diakhir kepengurusan aku mendapatkan penghargaan Pengurus OSIS IP3A Terbaik.

Singapura, 20 Maret 2017

Allah itu baik. Setelah 4 kali gagal mengikuti tes pertukaran pelajar, akhirnnya di percobaan ke 5 aku bisa mendapatkan beasiswa dari Sun Education untuk Presentasi & School Visit di Singapura dan Malaysia selama 1 minggu.

Kala itulah pertama kali aku bisa berbicara bahasa inggris depan orang asing, kala itulah aku tau kehidupan di negara maju seperti apa, dan kala itulah foto yang aku temple di depan lemari yaitu patung merlion tepat berada depan pandanganku. Skenario Allah memang selalu paling baik.

Malaysia, 25 Maret 2017

Allah itu baik. Disamping aku gagal ke 4 negara, ternyata Allah beri aku kesempatan dengan gratis berkunjung ke dua negara tetangga Indonesia. Malaysia tepatnya di Johor Bahru, aku memberikan presentasi di University of Southampton dan aku sangat bahagia karena mendapatkan penghargaan pembicara terbaik.

Sungguh, bagi anak kampung sepertiku ke luar negeri gratis aja sudah Alhamdulillah apalagi sampai diberi penghargaan. Akhirnya aku bisa membuktikan kepada orang yang menghinaku bahwa aku bisa.