ISMA – “Aku selalu percaya bahwa orang pintar akan kalah dengan orang yang bekerja keras”

Cianjur, April 2018

Di fase akhir SMA, semua orang mulai bingung untuk melanjutkan kuliah kemana, termasuk aku yang daftar SNMPTN asal saja karena aku memang gada niatan sama sekali kuliah di Indonesia, bahkan ikut SBMPTN pun tidak.

Aku dengan segudang mimpi ingin kuliah di luar negeri mencari banyak cara mulai dari beasiswa, negara, kampus, jurusan, dan sebagainya. Aku mendaftar ke 15 negara dan 15 beasiswa, tapi nyaris semuanya gagal.

Fase itu menjadi fase terendah dalam hidupku, SBMPTN sudah tutup, ujian mandiri sudah tutup, SNMPTN gagal, beasiswa luar negeri gagal, ekonomi keluarga sedang tidak baik, dan sempat waktu itu aku ingin bunuh diri saja.

Padahal, waktu itu aku tergolong siswa yang cukup baik dengan 60 penghargaan berbagai lomba serta jabatan strategis di berbagai organisasi.

Rasanya, semua perjuangan yang sudah aku lakukan gada harganya. Orang tuaku terus menekan aku untuk kuliah sehingga mau tidak mau aku harus mencari cara bagaimana untuk masuk kuliah.

Malam itu, aku mencari informasi kuliah jurusan Hubungan Internasional yang masih buka. Tepat mengarah kepada Universitas Islam Indonesia yang merupakan universitas tertua sekaligus pts terbaik di Indonesia.

Aku daftar dan diterima, namun seketika melihat biaya awal kisaran 16 juta yang bagiku itu sangat mahal dan aku enggan untuk memberi tahu orang tua. Kala itu, orang tua berusaha meyakinkanku bahwa mereka mampu, akupun terima dan aku tidak akan menyiayiakan kesempatan itu.

Yogyakarta, Juli 2018


Allah itu baik. Seketika aku diterima di UII, aku langsung mendaftar Beasiswa Full Mahasiswa Unggulan PP UII, dan akupun lolos. Alhamdulillahnya, biaya yang orangtuaku keluarkan kisaran 16 juta itu dikembalikan lagi dengan utuh.

Akupun bangga, bisa kuliah tanpa harus membebani orang tua. Berbekal mimpi serta percaya diri semenjak SMA, aku mulai aktif mengikuti berbagai lomba serta kegiatan organisasi. Aku pun menjuarai 3 lomba di semester 1, namun sayangnya bagiku itu bukan merupakan hal baru karena semenjak SMA aku sudah sering mendapatkannya.

Aku melihat suatu postingan mahasiswa UII yang di luar negeri. Aku mulai percaya bahwa untuk ke luar negeri tidak hanya kuliah di luar negeri, namun mahasiswa dalam negeri dan mengikuti kegiatan di luar negeri pun bisa. Aku mulai mencari cara diakhir tahun bagaimana aku bisa ke luar negeri gratis.

Yogyakarta, November 2018

Allah itu baik. Dering teleponku berbunyi di malam hari dan mendapatkan sebuah notif pesan di WA yang menyuruhku datang ke Ruangan di Perpus UII lt.3. Aku pun sempat bingung karena ketika datang hampir yang hadir semua dosen, termasuk dosen jurusanku hubungan internasional.

Sungguh aku merasa malu sampai aku bertanya sebenarnya ini apa. Tapi tetap, semua tidak ada yang memberitahuku bahkan mahasiswa yang hadir pun tidak tau. Setelah semua acara berakhir, akhirnya aku dipanggil dan mendapat penghargaan sebagai “Mahasiswa Berprestasi II FPSB UII”.

Ah, aneh rasanya, mahasiswa baru yang baru saja menginjakkan kakinya di semester 1 telah berhasil mendapat penghargaan ini. Terima kasih ya allah ! Skenariomu selalu paling baik.

Thailand, Januari 2019

Allah itu baik. Beberapa bulan setelah itu, tulisanku diterima untuk dipresentasikan di acara Bangkok International Student Conference 2019 di Thammasat University.

Seorang mahasiswa baru yang seharusnya masih beradaptasi membuatku selalu ingin berbeda dari yang lain dan ingin memiliki loncatan yang lebih jauh dari mahasiswa umumnya. Tidak sedikit orang yang meragukanku saat itu, tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Kala itu, teknik presentasiku diberi tepuk tangan yang meriah dan penguji memberikanku kata-kata penyemangat “You would be the great speaker someday”. Biaya ? Alhamdulillah kampus menanggung semua keperluanku.

Filipina, Februari 2019

Allah itu baik, 3 hari setelah acara di Bangkok, aku berangkat kembali diawal februari untuk mengikuti ASEAN Meeting di University of Santo Tomas, Manila. Sungguh aku merasa bangga bertemu dengan berbagai petinggi negara dan mahasiswa berprestasi dari seluruh negara ASEAN.

Pikiranku mulai terbuka saat itu untuk melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Tidak berhenti disini ! Biaya ? Alhamdulillah kampus dan penyelenggara menanggung semua keperluanku.

Nepal, Maret 2019

Allah itu baik. Sebulan setelah itu, terdapat notif “Congratulations” yang menandakan bahwa tulisanku menjadi juara 3 dan membawaku terbang gratis ke Nepal. Setelah berkelana di Asia Tenggara, akhirnya aku bisa ke Asia Selatan dan ke salah satu negara termiskin di dunia.

Dari sini, aku belajar bersyukur tinggal di Indonesia. Salju dan musim dingin dengan minus 15 juga menyertai perjalananku kali ini. Impian sejak kecil nonton Tsubasa yaitu ingin merasakan salju dan akhirnya semua itu tercapai. Tidak berhenti disini !

Tiongkok, Mei 2019

Allah itu baik. Ramadhan special di tahun 2019 2 minggu aku laksanakan di Beijing dan Tianjin. Diundangnya aku menjadi pembicara di acara Asia Young Scholar Summit merupakan hal yang sangat membahagiakan.

Secara, Tiongkok merupakan negara yang selalu aku sebutkan setiap kecil, dengan pribahasanya tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Melihat tembok china, minoritas muslim, dan berkelana di negeri komunis memiliki perasaan yang sangat berbeda. Akhirnya aku bisa sedikit lebih jauh, mulai dari Asia Tenggara, Selatan, dan sekarang timur. Terima kasih Ya Allah !

Yogyakarta, Agustus 2019

Allah itu baik. Aku yang dengan segala keterbatasannya diberi amanah kembali untuk menjadi Presiden I CLI UII yang merupakan organisasi bahasa kampus. Rasanya sudah lama tidak bergelut lagi menjadi bagian bahasa, tapi bersama mereka aku belajar banyak tentang mimpi. Makasih

Qatar, November 2019

Allah itu baik. Pesawat Qatar Airways membawaku terbang ke Qatar dan mendapatkan Free City Tour di kota doha selama 6 jam. Rasanya enak walaupun panas, aku bisa merasakan aura-aura timur tengah dengan panasnya mencapai 40 derajat dan makanannya yang super khas dan beda dari Indonesia.

Melihat bangunan emas, bandara yang megah, dan tulisan berbahasa arab sangat membuatku tertarik dengannya. Sungguh semoga suatu saat nanti tidak hanya 6 jam, melainkan lebih lama.

Turkey, November 2019

Allah itu baik. Setelah bergelut dengan panasnya Qatar, akhirnya aku dibawah ke Bumi Asia dan Eropa dengan cuacanya yang dingin karena memasuki musim gugur. Turkey merupakan negara pertama yang ingin aku kunjungi sekaligus untuk kuliah S1, namun takdir berkata lain.

Allah membawaku setahun setelah kegagalan itu kesini dan menjadi pembicara di European Congress on Economic Issues di dua universitas yaitu WSB dan Kocaeli University.

Indah rasanya, aku bisa merasakan hawa-hawa eropa dengan budaya serta makanannya yang kekurangan bumbu serta sambal sedap layaknya Indonesia. Istanbul, Eskisehir, Izmir, dan Kocaeli menjadi 4 kota yang aku kunjungi disana selama 3 minggu, enak rasanya kalau gratisan.

Yogyakarta, Desember 2019

Allah itu baik. Tepat pada malam hari setelah selesai Forum Group Discussion, aku mendapatkan penghargaan sebagai “Santri Berprestasi Pondok Pesantren UII”. Aku merasa sangat aneh karena aku bisa mendapatkan predikat berprestasi diantara semua mahasiswa berprestasi di pesantren UII.

Tapi aku selalu bersyukur karena ini akan menjadi amanah bagiku untuk terus berbuat baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Thailand, Januari 2020

Allah itu baik, Awal tahun yang indah dengan aku mendapatkan Beasiswa untuk mengajari di Banmaisamakkee School, Chiang Rai. Dua kali ke Thailand dengan kota serta kegiatan yang berbeda memiliki daya tarik tersendiri.

Chiang Rai sangat dingin, tidak seperti Bangkok yang panasnya terkadang membuat kehilangan mood untuk jalan-jalan. Bertemu serta mengajar bahasa inggris kepada anak SD merupakan hobiku sekaligus caraku bisa bermanfaat bagi orang lain.

Kala itu pun aku merasakan selama sebulan menjadi kaum minoritas, karena muslim di kota itu sangat jarang, dan aku suka itu.

Laos, Februari 2020