ISMA-Bagaimana seharusnya kita menghadapi seorang psikopat? Ada tiga jenis jawaban: jawaban santai, jawaban ilmu kejiwaan, dan jawaban syar’iyyah. Jawaban santainya, “sing waras ngalah.” Yang waras mengalah. Psikopat itu sakit jiwa, tak usah diladeni. Dilawan tambah beringas. Ditemani, kita bisa ikut-ikutan gila. Menjauhlah dan fokuskan kesibukan kita dengan memperbanyak jumlah orang berakal dan berhati sehat.
Jawaban kedua, agak lebih serius, menurut ilmu kejiwaan. Jurnal Riset Kepribadian (2010) menerbitkan artikel berjudul “The search of the successful psychopat”.

Cara Menghadapi Seorang Psikopat

Hasil riset itu menyarankan 5 cara menghadapi seorang psikopat:

  1. Jangan terpancing emosi. Semakin kita emosional menghadapinya, semakin ia mengendalikan kita.
  2. Jangan tunjukkan sedikitpun kepadanya bahwa anda merasa takut, atau terintimidasi oleh berbagai ucapan atau perilakunya.
  3. Jangan pernah percaya pada ocehannya. Seorang psikopat, menurut riset itu, selalu punya banyak cerita bohong yang menempatkan dirinya seakan-akan ia korban. Korban fitnah, bully, diskriminasi.
  4. Kembalikan semua ucapannya kepada si psikopat sendiri. Tidak perlu menanggapi isi ucapannya. Katakan kepadanya, “Bagaimana keadanmu hari ini? Waktu berpidato anda tegang sekali. Sedang stress ya?”
  5. Usahakan berkomunikasi hanya secara online. Selain untuk mendokumentasi, juga membuat jarak dengan berbagai ucapan dan tindakannya. Yang terakhir, jawaban secara syar’iyyah. Abu jahal dan sistem kekuasaan syirik Quraisy menunjukan sifat-sifat Psikopat, pendusta, sombong, pemarah, bodoh tapi berlagak pintar, pencaci maki, pemfitnah, pengadu domba, manipulatif, agresif, tak menyesal, tak merasa salah, tak punya empati.
    Dalam durasi 15 tahun, Abu jahal dan kawan-kawan semakin gila menghadapi ayat al-Qur’an dan semakin psikopatik perilakunya. Abu jahal mati di Badr. Tapi penyakit jiwanya sudah mensistem. Bukan saja bergerombol, bahkan membentuk koalisi. Semakin besar koalisi yang terbentuk, semakin psikopatik perilakunya. Tapi semakin dekat kehancurannya.
    Rasulullah menghadapi psikopati Abu jahal dan negara psikopat Quraisy dengan empat tahap: Tahap pertama, mengokohkan keyakinan orang-orang beriman, bahwa meskipun dituduh gila, orang-orang yang mengimani al-Qur’an tidak gila. “Berkat nikmat Tuhanmu (al-Qur’an) kamu sekali-kali bukan orang gila. “(al-Qalam :2) Maknanya, Abu jahal dan kawan-kawannya yang menolak al-Qur’an lah yang gila. Tahap kedua, fokus terus pada kerja dawah dan mentarbiyah orang-orang berakal dan berhati sehat. Tahap ketiga, ketika usaha dakwah dan tarbiyah sudah semakin terancam oleh kegiatan orang-orang dan negara psikopat Quraisy, hijrah ke tempat atau suasana yang aman. Jika terpaksa, bela diri untuk keselamatan nyawa, badan, akal, harta, dan kemuliaan. Tahap empat, bangunlah sistem akal dan hati sehat mengikuti tuntunan al-Qur’an dan as-sunnah Rasulullah di semua bidang kehidupan. Polotik, ekonomi, pendidikan, keuangan, perdagangan, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Sistem akal sehat pasti akan dipilih oleh fitrah manusia. Mungkin manusia bisa dimanipulasi oleh para psikopat selama lima tahun, sepuluh tahun, tapi tak lebih dari dua puluh tahun. Syaratnya, sistem yang sehat akal dan hatinya tersedia sebagai pilihan.