ISMA – Banyak hal berubah. Tak terkecuali kamu, bahkan aku. Karena mungkin memang benar, bahwa tak ada yang tak berubah.

Kalau kata novel yang pernah aku baca, “Semuanya berubah, kecuali satu. Satu itu perubahan itu sendiri. Dan, memang begitu kenyataannya.

Tentang semua sesak yang sempat menyesakkan kemarin lalu, yang sungguh sangat mahir membuat tangis menderas, dan memunculkan kembali semua lemah yang sebelumnya tersimpan rapi.

Aku minta maaf, ya? Maaf atas segala kecewa yang telah lahir tersebab olehku.

Maaf karena aku harus bilang, bahwa aku manusia- yang jadi tempat salah, lupa, bahkan kecewa- yang bisa lelah bahkan hilang arah.

Maka dari itu, tolong genggam lagi, dan bangun lagi semua asa yang pernah menjadi alasan aku dan kamu menjadi kuat saat bersama.

Aku tak bisa sendirian. Bisakah kita kembali berjuang bersama?

Luka ini begitu menyesakkan, baik buatku maupun buatmu. Makanya, aku butuh kamu buat sama-sama memulihkan luka. Agar kita sama-sama kuat sepertis sedia kala.

Masih mau kan, berjuang sama aku? Dunia ini masih sama, masih tentang percaya dan juga luka. Kalau membahas tentang rasa percaya, entahlah. Terlalu berat rasanya.

Iya, berat.

Dulu, saat sebelum memasuki tahap ini rasanya mudah sekali untuk percaya- mempercayai banyak hal, bahkan tanpa tanya maupun syarat.

Tapi, setelah semua yang terjadi, terlebih saat telah menginjak tahap ini, mengapa rasanya percaya begitu sulit?

Ah, iya. Tentu karena pengalaman yang kau miliki sekarang sudah jauh lebih banyak.

Sudah pernah jatuh, patah, sakit, hingga akhirnya mampu sembuh dan bangkit lagi sampai bisa ada di posisimu saat ini.

Dan kamu jadi begitu sulit percaya karena telah mengenal apa itu luka dan kecewa.

Ah, atau mungkin telah terbiasa?

Entahlah. Rasanya percaya pada diri sendiri mungkin solusi terbaik saat semesta mulai menunjukkan penghianatannya.

Dan saat percaya telah mahir mengajarkan tentang apa itu luka, semua yang semula rumit mulai terlihat jelas. Simpul ruwet yang sudah seperti benang kusut itu, mulai terurai satu demi satu.

Tentang percaya kita pada sesama makhluk yang mahir melahirkan kecewa, yang memang tak seharusnya percaya dan harapan digantungkan padanya.

Terima kasih percaya, karena telah mengajarkanku tentang apa itu luka dan maknanya.