ISMA – Masa SMA biasanya menjadi masa yang indah, penuh cinta, dan sangat menarik untuk dibuat cerita atau cerpen. Terlebih, masa kala SMA bisa dibilang paling membekas karena biasanya ada cinta pertama di sana, yuk baca cerpen ini.

Waktu kelas 2 sekolah tingkat menengah, aku punya genk yang cupu-cupu dikelas. Selain dari genk itu, aku juga lumayan dekat dengan dua teman cewek sekelasku yang bisa dibilang sedikit lebih gaul.

Walaupun sekelas, dibandingkan teman genk aku yang cupu-cupu tapi pinter itu, aku lebih enjoy sama dua temanku yang gaul tapi gak terlalu famous. Mereka Deira dan Mia.

Diantara kami bertiga, tentunya aku yang paling cupu kali ya. Huhu… Dan herannya dengan dua temanku inilah, kami bisa saling bongkar aib cinta monyet masing-masing.

Termasuk tentang aku yang naksir, cowok tinggi, manis, cool, dia bukan siapa-siapa bahkan kehadirannya nyaris tidak dikenal disekolah kami. Namanya Gio.

Temanku Mia, cewek cantik, putih, pinter dan periang. Ternyata sudah ada yang punya, cowok manis, anggota anak basket yang suka pake headband kemana-mana. Jadi, kita lupakan saja persoalan cinta Mia.

Sekarang beralih ke temanku yang satu lagi, Deira. Remaja yang takut Tuhan, berkulit sawo matang, kalem tapi sebenarnya cuma pencitraan. Haha … Dia naksir cowok tetangga kelas kami yang namanya Rafha.

Rafha ini cowok cerdas, sering menjadi juara umum disekolah kami. Dia orangnya agak pendiam, gak banyak tingkah.

Jadi, Rafha ini sekelas dengan temanku yang sudah kenal sejak SD, namanya Ipul. Nah, kebetulan Gio yang aku taksir itu adalah teman mainnya Ipul. Alhasil, aku suka ngancam dia demi mengorek-ngorek informasi soal Gio.

Kalau cerita Deira sama gebetannya? Berhubung Deira naksir teman sejawat kami, makanya aku dan Mia terus ngompor-ngomporin dia buat bikin surat cinta. Jadul memang, tapi ya sudahlah biar beda.

Dan dibagilah tugas.

Mia dapat tugas ngarang kata-kata, Deira nulis sendiri surat cintanya, dan aku jadi tukang posnya. Kebetulan aku suka main ke kelas Ipul. Biasa… buat ngorek informasi soal Gio, walaupun informasi yang diberikan gak ada yang penting sih.

Emang dasarnya dari dulu aku cuek, jadi dengan santainya aku ngomong ke Rafha saat jam istirahat. “Raf, pulang sekolah, jangan pulang dulu ya. Aku mau ngomong sama kamu.”

Ekspresi cowok itu sempat terkejut lalu bengong beberapa saat. Rafha memang gak terlalu bergaul dengan cewek. Apalagi cewek agresif kayak aku. Hahaha.

Balik ke tugas aku menjadi pengantar surat. Rafha sudah menunggu didepan kelasnya. Perlu diingat, aku kan gak naksir sama Rafha jadi, dengan santai dan tanpa beban nyodorin amplop berisi curahan hati Deira ke dia sambil ngomong.

“Nih, buat kamu. Dari teman aku. Jangan dibuka disini, di rumah aja. Udah ya.”

Rafha kaget, tapi aku emang dasarnya gak peduli sama dia, langsung nyelonong nyamperin Ipul.

Sejak Rafha nerima surat cinta itu, dia mendadak berubah. Kami merasa Rafha sering memperhatikan. Setiap ketemu, dia senyum malu-malu. Aih …

Aku dan Mia tentunya senang dengan perkembangan ini. “Cieee… Deira, kayaknya bentar lagi nih.” godaku dan Deira tersipu.

Sampai suatu hari…

Kami bertiga sedang jajan di kantin. Aku sedang sibuk makan mie ayam, tiba-tiba Ipul datang. Dia narik aku menjauh dari Mia sama Deira.

“Aku pikir selama ini kamu naksir temen aku, si Gio.” Ipul berbicara dengan raut wajah yang serius.

Aku mengelap bibir yang berminyak lalu kembali memakan pangsit. “Lah emang iya, kan?”

Ipul menggeleng. “Kok kata Rafha, kamu naksir dia?”

“Hah?!” Aku terlonjak, hampir tersedak pangsit.

“Iyaa. Kata Rafha, kamu ngasih surat cinta ke dia.”

What? Aku buru-buru mengklarifikasi. “Nggak kok… Itu bukan aku. Kan yang kirim surat itu temen aku, tugasku cuma tukang ngasih suratnya doang.”

“Jangan bohong deh, Rafha merhatiin tulisan yang ada disurat itu sama persis kayak tulisan tangan kamu.”

Aku ngotot. “Ah, Rafha sok tahu! Emangnya dia pernah liat tulisan tangan aku?”

“Di mading, kan kamu kirim tulisan ke mading. Kata anak-anak genk juga, emang tulisannya sama kayak tulisan kamu.”

Duh!

Aku segera pergi meninggalkan Ipul, lalu ngasih tahu Mia sama Deira berita buruk ini. Aku langsung menatap Deira nyalang.

“Kok Rafha bilang tulisannya kayak tulisan aku. Padahalkan tulisan tangan kamu lebih bagus, Dei.”

Deira cengengesan. “Emang sengaja aku jelek-jelekin, biar gak ketahuan tulisan aku.”

“Tapi Dei sebutin kan pengirim surat itu kamu?”

Deira langsung menjawab cepat sambil mengibaskan tangan. “Ya nggaklah, biar kesannya kayak secret admirer gituu.”

Oh God, Mampus!

Dua bulan setelah kejadian itu, aku pindah sekolah ke Jakarta karena orang tuaku pindah tugas dan Rafha pindah sekolah ke kota lain. Aku berkali-kali meyakinkan Rafha, kalau bukan aku yang nulis surat itu. Tapi dia keukeuh gak percaya.

Rafha cuma mau tahu kalau aku naksir dia. Lah, aku kan naksirnya ke Gio. Dia juga gak mau percaya kalau aku emang gak suka sama dia. Heran ya, pede amat tuh orang.