ISMAJika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Aku akan menjagamu agar tetap tersenyum dan bahagia. Kumohon, lupakan dia sudah pergi dan kau harus bertahan bersamaku. Aku akan membahagiakanmu.

Suara tangisan yang hanya terdengar dari sebuah ruangan tak terlalu besar. Semakin lama tangisan itu semakin pilu, seperti tangisan yang menyayat hati. Seorang pria tengah menangis di ruangan itu sambil memeluk sebuah foto seseorang.

“Aku akan mencarinya, tapi aku tidak ingin kau pergi dariku! Kumohon, dengarlah permintaanku ini!” ucapnya pada foto itu. Mengusapnya dan kembali ia peluk. Alvian, nama pria itu langsung bangun dari duduknya, menaruh foto yang ia dekap sedari tadi. Dan mencoba menaiki kursi yang sudah ia siapkan.

Dilain sisi, seorang gadis cantik tengah berjalan sambil tersenyum senang dan membawa sebuah kotak yang lumayan besar. Kemudian, dia masuk kedalam sebuah kamar apartemen yang ia kunjungi.

Setelah masuk lebih dalam ke kamar tersebut, ia tidak melihat siapapun. Kemana dia? Pikirnya. Kemudian, dia berjalan menuju arah sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Alangkah terkejutnya ia, saat membuka pintunya lebar ia langsung berlari kearah seorang pria yang akan gantung diri.

Baca Juga: Cerpen Tentang Persahabatan: Party with My Famous Best Friend

“Alvian! Apa yang kau lakukan?! Apa kau gila!” Bentaknya sambil mencoba menurunkan Alvian yang akan bunuh diri di dalam kamarnya. Gadis tadi temannya Alvian, lebih tepatnya sahabat dari masa kecilnya sampai sekarang. Panggil saja dia, Sora.

Sora langsung melihat kondisi Alvian dengan wajah yang sangat khawatir. Ia tidak menyangka bahwa Alvian akan nekat melakukan hal tadi. Setelah kepergian seseorang yang sangat Alvian sayangi, ia menjadi lebih tertutup dan sering melamun. Membuat Sora tidak bisa tenang melihat sahabatnya seperti ini.

Alvian hanya terdiam, kemudian ia menatap Sora dengan mata yang berkaca-kaca. “Apa aku ini jahat, Sora? Aku… Aku sangat menyesal telah meninggalkan dia sendiri di sana, aku tidak tahu bahwa hari terakhirnya bersamaku. Aku seorang pembunuh, Sora! Aku seorang pembunuh!” Teriak Alvian sambil memukul dirinya sendiri.

Melihat hal itu, Sora langsung mendekapnya erat untuk menenangkan emosi Alvian yang tidak stabil. “Kau tidak boleh berbicara seperti itu, kau tidak salah, Alvian. Lisa pasti mengerti dan kau jangan terus menerus menangisi orang yang sudah pergi. Kau harus berjuang! Aku akan selalu ada bersamamu, jadi tenanglah! Kau tidak usah risau, aku akan menyelamatkanmu, Alvian!” Sora mengusap-usap punggung Alvian sayang. Mencoba menguatkan Alvian agar tenang dan bisa menerima bahwa Lisa, orang sangat ia cintai telah pergi.

Baca Juga: Cerpen Tentang Cinta: Hari Pertama Aku Jatuh Cinta

1 tahun yang lalu…

Hanya cahaya bulan purnama saja yang menemani seorang pemuda yang sedang serius membaca sebuah buku ditengah gelapnya malam. Hanya sendirian, tak ada orang satupun didekatnya. Udara semakin dingin, tapi entah kenapa ia tidak mau pergi dari tempat yang di sukai nya tersebut.

“Alvian!” teriak seseorang dari arah belakang. Alvian langsung melihat ke belakang, terlihat seorang gadis berparas cantik dengan rambut sebahu, mata bulat berwarna coklat dan bibir tipis. Alvian berdiri dari duduknya dan gadis itu menghampiri Alvian sambil sedikit berlari.

“Lisa? Kenapa kau ada disini?” tanya Alvian setelah gadis yang bernama Lisa itu berdiri dihadapannya.

Lisa menatap Alvian sedikit khawatir dan tajam. “Seharusnya, aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau ada disini? Ini sudah malam dan udara semakin dingin, lebih baik kita turun saja kebawah, ayo!” Lisa mencoba menarik tangan Alvian. Dan secepat kilat menarik tangannya yang membuat Lisa ikut terdorong kebelakang dan akhirnya jatuh kebawah.

“Alvian!” Teriak Lisa. Alvian yang menyadarinya langsung mencoba menyelamatkannya, tapi tidak tertangkap karena Lisa sudah terjun bebas ke bawah. Dan berakhir dengan darah yang keluar dari kepalanya yang menubruk lantai.

“Lisaaa!” Alvian segera turun dan menghampiri tubuh Lisa yang bersimbah darah. Alvian memangku kepala Lisa, wajahnya pucat dan sedikit dingin. Alvian mencoba mencari bantuan dengan cara berteriak-teriak. Sampai akhirnya, segerombol orang datang mengerubungi Alvian dan Lisa.

“Kumohon tolong temanku!” teriak Alvian. Semua yang melihat tubuh Lisa yang pucat dan darah-darah di mana-mana hanya menutup mulut, kemudian seseorang langsung menelepon ambulance. Tidak lama kemudian, ambulance datang dan langsung membawa Lisa ke rumah sakit. Alvian ikut, ia terus saja memegang tangan Lisa yang semakin dingin dan pucat.

“Kumohon, Lis! Bangun, Lisa! Kau harus bertahan, kumohon!” Alvian terus saja berbicara seperti itu. Setelah sampai, Lisa segera ditangani oleh tenaga medis.

Malam harinya, Alvian masuk ke dalam ruangan tempat Lisa dirawat. Melihat kondisi tubuh Lisa yang kini masih tak sadarkan diri membuatnya merasa sangat bersalah terhadap gadis yang sangat ia sayangi itu. Air mata kembali turun di kedua sudut mata Alvian, lalu ia berjalan dan duduk disamping ranjang yang Lisa tiduri.

“Lisa!” Panggil Alvian lirih. Mata itu masih tertutup, senyum itu tidak ada. Kini hanya diam tak bersuara, hanya suara pendeteksi jantung yang masih berbunyi. Alvian memegang tangan Lisa yang terdapat jarum infus, diusapnya sayang semoga itu membuat Lisa bangun.

Waktu terus bergulir, matahari sudah menampakkan dirinya lagi. Burung-burung berterbangan mencari makan dan Alvian masih tertidur disamping Lisa sambil memegang tangan itu erat. Sampai akhirnya, Alvian terbangun karena merasakan ada yang mengelus-elus pucuk kepalanya. Alvian melihat Lisa tengah menatapnya dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.

Alvian hendak berdiri untuk memanggil dokter, tapi tangannya ditahan oleh sahabatnya itu. “Jangan! Kumohon tetap disampingku, Alvian!” cegah Lisa. Mau tidak mau Alvian kembali duduk di tempat semula ia duduk. Ia terus menggenggam erat tangan Lisa.

Lisa masih tersenyum manis, “Aku ingin berbicara suatu hal kepadamu, Alvian.” terang Lisa. “Terimakasih sudah hadir didalam hidupku ini, maaf jika aku selalu merepotkan mu. Aku melakukan ini semua demi dirimu, aku ingin kau terus berada disampingku. Aku sangat sayang padamu, Alvian. Sangat sayang padamu,” sambung Lisa. Air mata sudah mengalir dari tadi di kedua sudut mata indah itu dan Alvian pun sama, mencoba menahan tangisnya yang akan meledak sebentar lagi.

“A.. aku juga sangat sayang padamu, Lisa. Kumohon tetaplah bertahan! Lisa yang kukenal adalah gadis kuat, ia tidak akan menyerah meski ujian sangat berat menghadangnya! Kumohon tetaplah berjuang!” Alvian tak bisa menahan Isak tangis itu, akhirnya air mata itu keluar dengan deras.

“Tapi, maaf Alvian. Waktuku tidak lama lagi, aku harus pergi. Tolong sampaikan maafku untuk kedua orangtuamu.” Lisa perlahan-lahan menutup kedua matanya, Alvian segera memeluk tubuh Lisa yang mulai dingin dan pucat. Genggaman tangan itu melemah seiring dengan suara panjang dari monitor pendeteksi detak jantung Lisa.

“Tidak! Tidak! Kau harus bertahan, Lisa! Lisa bangun, kumohon Lisa bangun! Kau harus tetap hidup dan bahagia!” teriak Alvian histeris. Sampai akhirnya, dokter dan para perawat datang untuk mengecek tubuh Lisa yang sudah terbujur kaku, mereka melepas semua alat yang ada ditubuh Lisa satu persatu.

Alvian hanya terduduk lemas dilantai, menatap kosong ke depan. Air mata masih turun dari sudut matanya, tidak mau berhenti. “Li… Sa… Maafkan aku…” lirihnya. Alvian mencoba berdiri dan menatap kearah tubuh Lisa yang sudah tidak bernyawa. Sampai akhirnya…

Plakkk!! Seseorang menampar dengan keras wajah Alvian dari samping, Alvian langsung menatap siapa pelaku yang menamparnya. Terlihat sesosok wanita dengan berurai air mata dan wajah merah padam karena amarah yang meluap-luap.

“Apa yang kau lakukan terhadap adikku sampai ia meninggalkanku sendiri di dunia ini, hah?!” bentaknya. “Kau harus mengembalikkan adikku! Kau harus mengembalikannya!” Wanita itu menarik kerah baju Alvian lalu menangis histeris. Alvian? Hanya diam mematung tidak tahu harus melakukan apa.

“Sudah Nay, sudah. Ini di rumah sakit, jangan teriak-teriak.” Seseorang yang bersama wanita itu mencoba menenangkan wanita yang mengklaim dirinya adalah kakak dari Lisa. Naya, kakaknya Lisa masih menangis kencang di dalam pelukan pria yang bersamanya. Pria itu mengusap-usap pucuk kepala Naya lembut. Dan selalu menenangkannya dengan kata-kata penenang. Alvian masih terdiam dengan wajah kaku, ia tidak bisa bergerak ataupun mengeluarkan sepatah kata. Sampai akhirnya sebuah tepukan dipundaknya menyadarkannya.

Pria itu tersenyum lantas pergi meninggalkan Alvian yang masih menatapnya. “Maafkan aku,” lirih Alvian.

Saat pemakaman Lisa, Alvian tampak tidak berani untuk menghampiri kakak Lisa yang masih berduka. Alvian segera meninggalkan pemakaman dan pergi menuju tempat yang sunyi serta sepi. Ia hanya ingin menyendiri saat ini.

“Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Lisa, kumohon maafkan aku.” Alvian kembali terisak dalam diam. Menangis di sudut tempat yang tidak akan ada orang tahu bahwa ia berada di sana sendiri. Menyalahkan kematian Lisa karena dirinya.

Alvian hanya diam saat Sora mengajaknya untuk berbicara. Kembali terbayang akan masa dimana kematian Lisa karena dirinya. Setelah kepergian Lisa, Alvian menjadi menutup dirinya dari orang-orang dan tidak pernah ingin menampakkan diri.

Sampai akhirnya Alvian dilarikan ke rumah sakit karena depresi. Alvian sering melakukan hal-hal di luar dugaan yang membuat semua orang khawatir, ia pernah menusuk tangannya tepat di nadinya dengan gunting. Untungnya langsung terselamatkan, kemudian Alvian pernah mencoba untuk menjatuhkan diri dari atap gedung tinggi, dan hal-hal mengerikan lainnya.

Tapi, Sora selalu ada disamping Alvian, mencoba untuk menyelamatkan dan menjaganya. Sora tahu, Alvian sangat rapuh. Alvian butuh seseorang yang dapat menerima keadaannya, selalu mensupport nya. Dan itulah Sora, wanita dengan kebaikan dan kesabaran yang selalu merawat Alvian. Ia akan terus berada disisi Alvian.