ISMA – Namaku Nisa, seoarang anak perempuan dari pasangan suami istri yang kini sudah berpisah. Semenjak mereka berpisah aku tinggal bersama ibuku.

Pagi itu, ibuku sedang sakit dan tidak bisa mengantarkanku pergi ke sekolah seperti biasanya. Jarak ke sekolahku cukup jauh dari rumah, segera aku menelepon ayah untuk memintanya mengantarkanku kesekolah

“Ayah, antarkan aku sekolah” ucap Nisa dalam telepon.

“Ibumu kemana?” Tanya ayahnya.

“Ibu sakit ayah, tidak bisa mengantarkanku ke sekolah, kali ini saja ayah antarkan aku ke sekolah” ucap Nisa.

“Ayah tidak bisa, ayah sibuk nanti terlambat ke kantor. Kamu naik angkot saja atau ojek” jawab ayahnya.

“Ayah, uang ibu hanya tinggal 10 rb, ibu sakit, kami pun belum makan pagi, tak ada apa-apa di rumah, kalau aku pakai untuk ongkos, kasian ibu sakit dan adik adik belum makan” ucap Nisa kepada ayahnya menceritakan keadaannya.

“Ya sudah kamu jalan kaki saja kesekolah, ayah juga dulu ke sekolah jalan kaki” ucap ayah.

“Ya sudah, terima kasih ayah” jawab Nisa.

Akupun mengakhiri telponnya. Aku sedikit menjatuhkan air mata kala itu tapi langsung ku hapus karena aku takut ibu melihat, segera aku kembali masuk ke kamar ibu

“Apa kata ayahmu nak?” Tanya ibu.

“Kata ayah iya ibu, ayah kali ini yang antar aku ke sekolah” jawab Nisa berbohong kepada ibunya.

“Doakan ibu agar lekas sembuh ya, biar besok ibu bisa antar kamu ke sekolah. Berangkatlah nak, belajar yang rajin semangatlah” ucap ibu mendoakanku

“Iya ibu, ibu tenang aja” jawabku.

Tahun berganti tahun, kenangan itu tertanam dalam di ingatanku. Aku pun semakin tumbuh dewasa dan berhasil sekolah sampai sarjan dengan beasiswa.

Setelah lulus aku bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang besar. Dengan penghasilan itu aku dapat membiayai hidup ibu dan menyekolahkan adik-adik.

Satu hari ayah menelponku.

“Ada apa yah?” Ucapku dalam telpon.

“Nak, ayah sakit, tidak ada yang membantu mengantarkan ayah ke rumah sakit” ucap ayah dalam telpon.

“memangnya istri ayah kemana?” Tanyaku terheran-heran.

“Ia meninggalkan ayah semenjak ayah sakit sakitan” ucap ayah.

“Ayah aku sedang kerja, ayah kerumah sakit pakai taxi saja” jawabku kepada ayah.

“Kenapa kamu begitu? Siapa yang akan urus pendaftaran ayah di RS? Apakah supir taxi? Kamu anak ayah masa orangtuamu sakit kamu tidak mau membantu mengurusnya?” Tanya ayah nampak bersedih hati.

“Ayah, bukankan ayah yang mengajarkanku untuk mengurus diri sendiri? Bukankah ayah yang mengajarkan ku bahwa pekerjaan lebih penting daripada anak dan istri yang sakit?” Jawabku dengan kesal kepada ayah.

“Ayah, aku masih ingat, satu pagi aku menelpon ayah minta antarkan aku ke sekolah, saat itu ibu sedang sakit, tubuhku lemah namun ayah mengatakan agar aku jalan kaki. Ayah tau? Hari itu pertama kalinya aku berbohong kepada ibu, aku mengatakan ayah akan mengantarkan aku kesekolah. Tapi ayah tau? Aku jalan kaki seperti yang disuruh ayah, ditengah jalan ibu menyusul dengan sepeda, ibu bisa tau aku berbohong, dengan tubuh sakitnya ibu mengayuh sepeda mengantarkan aku ke sekolah. Ayah yang mengajarkanku seperti itu maka ayah pun harus bisa” ucapku membuka kembali cerita lalu.

Seketika ayah terdiam sepi disebrang telepon. Baru disadarinya betapa dalam luka yang ditorehkannya di hati anaknya.