CERPEN

Cerpen Tentang Cinta: Friendzone

Oleh : Sya_lion

Nyatanya persahabatan yang terjalin antara seorang cewek dan cowok itu gak ada yang murni. Gak percaya? Cobain!

Mungkin ada beberapa persahabatan yang murni, tapi kebanyakannya ENGGAK! Kayak kisahnya Rama sama Dara. Hampir setiap detik mereka bareng-bareng, jalan bareng, makan bareng, nafas bareng, bahkan sampe ke kentut aja mereka bareng-bareng. Percaya? Baca syahadat lagi woi lu pada!

Cinta itu datang tanpa diundang, dan pergi pun tanpa diantar. Mereka datang dan pergi begitu saja. Cinta itu jahat, tapi terkadang kejahatan dalam cinta itulah yang membuatnya menarik. Di malam yang dingin, Dara tengah berbaring menatap ke layar ponselnya. Ia menunggu seseorang untuk memberinya pesan melalui WhatsApp. Hanya notif dari cowok itu yang sampai saat ini Dara tunggu.

Sebenarnya siapa cowok itu?
Cowok itu adalah kekasih gelapnya saat masih duduk di bangku SD. Terdengar gila bukan ? Mungkin ini karma karena telah menduakan seseorang yang tulus mencintainya. Dulu, Dara hanya mempermainkan kekasih gelapnya itu. Ia hanya memanfaatkan kepintaran cowok itu. Bagaimana bisa Dara jatuh cinta dengan cowok yang tampangnya mitip kentang ? Tapi ingat, roda itu berputar.

Setelah menginjak masa remaja, dan mereka dipertemukan kembali di SMA. Dara terkejut bukan main melihat glow up nya cowok itu, sebut saja dia Ragil. Lelaki bertubuh tinggi, dengan kulit putih bersih dan rambut hitam lembut yang semerbak wangi melati. Dara terpesona dan terhantam visual Ragil saat pertama kali melihatnya.

Keduanya sempat kembali dekat, dan Ragil juga selalu bercanda dengn Dara walau hanya via WhatsApp. Kembali bernostalgia dan berbagi cerita hingga membuat Dara jatuh cinta. Banyak gombalan dan kalimat-kalimat manis yang Ragil ucapkan untuk Dara. Bahkan hampir setiap hari mereka melakukan video call layaknya orang yang sedang berpacaran. Namun kini…

“Onlinenya udah bukan buat aku,”

“sekarang Ragil udah punya yang baru,”

“udah enggak butuhin aku,”

“hatinya udah cinta sama yang laen HUAAAH!! AKU GAK BISA DIGINIIN!! Hiks…” Dara menangis histeris sejak 30 menit yang lalu. Ragil bahkan tidak membalas pesannya, dan menolak panggilan dari Dara. Bahkan sekarang Dara sudah diblock oleh Ragil. Sakit? Pasti.

Dara tidak bisa menanggung semua rasa sakitnya sendirian, kini gadis itu menghubungi sahabat dinginnnya. Dia dingin, gak banyak ngomong, dan kalo ngomong tu ya seperlunya. Tapi, Dara bisa merasakan perhatian cowok itu. Perhatian yang sangat besar untuknya, maka dari itu hanya Ramalah yang menjadi tujuan akhirnya sampai saat ini.

Cowok berbadan tinggi itu baru saja selesai mandi. 30 menit yang lalu Rama baru saja selesai latihan basket untuk turnamen minggu depan. Cowok itu mengeringkan rambutnya di depan cermin dan beberapa menit kemudian ponselnya bergetar tanda sesesorang telah menghubunginya.

“Dara,” gumamnya, kemudian ia menerima panggilannya tanpa ragu.

“Kenapa lo?” tanya Rama dengan gaya bicaranya yang sangat dingin.

Rama sudah tahu betul, jika Dara mencarinya berarti hati Dara sedang lara. Terkadang hati Rama sakit ketika ia tersadar bahwa dirinya hanyalah pelampiasan akan kesedihan yang Dara rasakan. Tapi cintanya terlalu besar untuk Dara, ibaratnya walau badai topan menghadangnya cintanya akan tetap kokoh untuk Dara.

“Kenapa hei…” tanya Rama lagi, kali ini ia sedikit melembutkan suaranya. Ia khawatir dirinya malah membuat mood Dara semakin hancur.
“Hiks… Ragil Ram hiks,” balas Dara sesenggukan. Rama terdiam menunggu kelanjutan dari ucapan Dara.

“Ragil block gue, hati gue sakit Ram. Terus gue liat dia bikin SG sama cewek hiks,” lanjutnya.

“Lo tau? Ada yang retak tapi bukan kaca, ada yang nyaman tapi bukan siapa-siapa hiks. Ragil bukan cowok gue, tapi gue sayang. Kenapa si kalo emang mau nyakitin, kenapa dia harus bikin gue terbang dulu? Kenapa? Hiks”
Rama menghela napas, rasanya udara di kamarnya begitu sedikit.

Rasanya sesak “Itu yang Namanya fvck boy Ra, tapi kenapa lo masih aja berharap sih sama si Ragil? Andai lo lupain dia, gue bisa bikin lo terbang tanpa bikin lo kehilangan sayap lo.” batin Rama.

“Udahlah jan nangis Ra, ada masanya lo bahagia,”

“Tapi Ram—”

“Sekarang mending lo siap-siap Emona lagi turun harga.” Pungkas Rama.

“Tau dari mana?” tanyanya. Dara kalo udah denger diskon auto hebring.

“Gak tau, ngasal aja. Mau murah mau mahal juga tetep bakalan gue beliin. Ayo buruan, 15 menit gue nyampe rumah lo.”

“Beneran? Awas boong.”

“Ngapain boong? Boong tu sama dengan nyari dosa, dari pada nyari dosa mending gue nyari kerja buat nafkahin lo.”

“Ahahaha, emangnya gue bini lo? Dasar!”
“Iya, bini gue di masa depan.”
“Sa aeh lu kutil anoa, terserahlah sekarang gue mau siap-siap bye. Makasih Rama hehe.”
“Sama-sama.”

PIP.

Panggilan terputus.

Rama tersenyum, ia lega mendengar tawa Dara. Sebenarnya tidak sulit membuat Dara kembali tertawa, ya tingal sogok kosmetik aja. Walau harus membuat dompetnya hangus, apapun demi Dara. Asalkan Dara bahagia.

Bersambung….

Baca Selengkapnya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker