ISMA – Hari ini adalah pertama kalinya aku masuk sekolah. Sebagai anak kelas 10 yang baru masuk dan gak ngerti apa-apa tentunya aku ngerasa gugup. Meskipun aku anak ekstropert dan gak bisa diam, tetap saja hari ini bukan hari yang mudah bagiku.

Aku berjalan menuju kelasku yang berada di lantai dua, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menabraku, dia nampak keren dan sepertinya sedikit nakal.

“Sorry sorry, gue gak sengaja” ucapnya meminta maaf kepadaku

“Sengaja juga gak papa ko” ucapku

“Hah!” Ucapnya kebingungan

“Haha.. becanda kali” ucapku sambil tertawa

“Haha..” diapun ikut tertawa

“Namaku Tasya” ucapku memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangan

“Namaku Revan” balasnya

“Lo anak baru ya? Kelas apa?” tanya Revan kepadaku

“Kelas X IPS 1” ucapku

“sama” ucapnya

Aku merasa senang, dihari pertama sekolahku Revan menjadi teman yang baik dan asik. Kemudian kitapun masuk kelas dan memutuskan untuk duduk bersama.

Satu bulan berlalu aku dan Revan makin dekat. Kita sering ke kantin bareng, ngerjain tugas bareng, olahraga bareng dan kita menjadi sahabat baik.

Satu bulan mengenal Revan aku cukup tau tentang sikap dia. Dia adalah anak yang baik, perhatian, tapi males dan sering tidur dikelas.

Ketika itu sedang pelajaran matematika. Aku dan Revan duduk dibangku paling depan agar lebih fokus belajar, namun itu tidak ngaruh buat dia, tetap saja dia sering tidur dikelas.

“Revan bangun” ucapku membangunkannya

“Ngantuk lah” ucapnya sambil tertidur

Kemudian bu Eni pun datang

“Revaann bbaanngguunnn…” ucap bu Eni sambil menepuk meja

“Iya bu” seketika Revan terbangun sambil terkejut

“Sekarang kamu berdiri dilapangan sampe jam istirahat tiba” ucap bu Eni mengusir Revan keluar

Revanpun keluar dan berdiri dilapangan sampai jam istirahat tiba, kemudia ketika jam istirahat tiba aku mendekati Revan ke lapang dan membawakannya minum.

“Nih minum” ucapku menyodorkannya minum

“Nah gini ke dari tadi” ucap Revan sambil mengambil minum dan duduk

“Sya aku mau ngomong sesuatu” ucap Revan serius kepadaku

“Ngomong apa?” Ucapku sambil duduk disebelahnya

“Aku udah punya pacar” ucapnya sambil menatapku serius

“Emangnya ada yang mau sama kamu” ucapan candaku kepadanya

“Aku serius, aku pacaran sama Tina, temen sekelas kita” ucapnya

“Emangnya kapan jadianya?” Tanyaku dan entah kenapa hatiku rasanya kecewa

“Empat hari yang lalu, kayanya kita gak bisa duduk sebangku lagi deh, aku mau jaga perasaan dia, soalnya aku suka banget sama dia” ucapnya

“Oh, yaudah” ucapku sambil pergi

Setelah itu aku dan Revanpun semakin menjauh. Dia duduk bersama Tina pacar barunya itu dan aku duduk sendiri didepan. Semakin ke sini aku semakin jarang ngobrol dengan Revan.

Entah kenapa aku ngerasa sepi dan kehilangan. Hati aku juga ngerasa sakit tiap melihat Revan dekat dengan pacarnya itu.

Suatu hari ketika pulang sekolah aku sengaja menemui Revan karena ada yang ingin aku sampaikan.

“Aku mau ngomong sesuatu” ucapku pada Revan

“Ngomong apa? Tapi cepet ya, pacar aku nungguin” ucapnya seperti khawatir

“Aku mau jujur sama perasaan aku, aku suka sama kamu”

Tiba-tiba Tina pun datang dan berdiri dibelakangku

“Kamu jangan bikin aku putus sama pacar aku dong” ucap Revan seperti kesal padaku

“Kita pulang yuk” ucap Tina

“Tina” ucapku sambil terkejut dengan keberadaannya

Kemudian Tina dan Revanpun pergi meninggalkan aku. Ketika itu aku benar-benar gak nyangka, itu bukan Revan yang aku kenal. Dia bener-bener beda dari Revan yang aku kenal.

Lama-lama aku sadar bahwa aku tidak boleh ketergantungan dengan orang lain, aku harus bisa hidup tanpa Revan dan aku pasti menemukan orang yang lebih baik dari dia

Mungkin pemikiranku selama ini tentang Revan salah, tapi aku yakin tentang satu hal, Tuhan pasti mendekatkan kita dengan seseorang yang layak, jika dia menjauh artinya dia memang tidak layak untuk kita.

Hari-hari berikutnya akupun sudah terbiasa tanpa Revan dan hikmah dari semua ini adalah aku jadi bisa lebih berbaur dengan teman-teman kelasku dan menemukan orang-orang yang baik kepadaku.