ISMA – Doa adalah kekuatan bagi semua orang, bahkan kekuatan doa pun bisa menjadi cerita pendek atau cerpen tentang kesedihan. Bahkan, kesedihan pun bisa menjadi pelajaran untuk hidup, selain dibuat cerpen.

“Bawa dia kehadapanku!” tegas seorang pemuda yang berpakaian layaknya berandalan.
Orang yang diperintahkan tadi datang kembali dengan menggusur seorang lelaki yang terkulai lemas tak berdaya.
“Kamu ikat dia di tiang itu dan bawa cambuk favoritku!” lagi-lagi memerintah orang tadi dengan santainya.
“Ini bos,” memberikan cambuk tadi dengan sopan, bahkan terlampau sopan sekali.
Pria yang dipanggil bos itu mencambukkan beberapa kali cambuknya keudara, bisa diartikan menggertak, untuk menakut-nakuti pria yang di ikat di tiang yang tak berdaya itu. Pria yang diikat itu ketakutan setengah mati, ia menyesal telah melerai pertengkaran tadi dipasar.
Plak! Plak!
Bos terus menghujamkan cambukan ke badan pria tak berdaya tadi tanpa pamrih, seakan hanya mencambuk sebuah meja yang tidak berdaya.
“Apa kamu berani lagi mencampuri urusanku?” Tanya bos dengan emosi yang meluap-luap.
Jangankan bisa mendengar suara yang diucapkan bos dengan jelas, pria itu tidak dapat bergerak lagi karena merasa sangat kesakitan dengan cambukan yang dihujamkan terus menerus.
“Buka ikatannya!” perintah bos.
Setelah ikatan tadi dilepaskan, tubuh pria itu menghantam bumi dengan sangat keras karena tidak sadarkan diri. Sendi-sendinya tidak dapat digerakkan, karena rasa sakitnya tidak dapat diartikan dengan kata-kata lagi.
“Itulah akibat jika mencampuri urusanku!”
Bos meninggalkan basement yang kosong dan mengerikan itu dengan langkah santai di ikuti pria bawahannya tadi. Tidak ada niat sediktpun untuk mengobati atau menolong lelaki yang kini tidak sadarkan diri dan berlumuran darah tadi.

Suatu hari, saat dalam perjalanan menuju rumahnya, bos melihat beberapa anak kecil sedang membantu seorang pria tua yang terjatuh karena ditabrak sebuah mobil yang pengemudinya tidak bertanggung jawab. Anak-anak itu berusaha menolong pria tua yang ringkih dan kesakitan dengan kemampuan mereka, disekitar tempat terjatuh pria tua tadi, terdapat Koran-koran baru yang berserakan.
Tiba-tiba desiran halus berdetak dijantung bos, hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Kaki bos melangkah mendekati pria tua itu dengan refleks.
“Bapak baik-baik saja?” Tanya bos dengan nada yang sangat halus, dia tersenyum sangat tulus. Menyembunyikan sebuah luka yang dulu pernah terjadi, ayahnya, ya… ayahnya meninggal karena ditabrak seseorang namun orang itu tidak bertanggung jawab.
“Biar saya bawa bapak ke puskesmas sini ya pak?”
Pria tua itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu bos menggendong pria itu ke punggungnya.
Puskesmas didaerah sini cukup jauh, membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai. Tidak ada kata letih yang bisa digambarkan saat ini yang dirasakan bos, karena ia bersungguh-sungguh untuk melakukan semuanya dengan ikhlas.
Saat tiba di puskesmas, beberapa orang terkejut melihat penampilan bos yang sangat garang dan berandalan itu, namun saat melihat pria tua yang digendongnya, para perawat segera menanganinya.
“Apa yang terjadi dengannya?” Tanya salah satu perawat.
“Dia ditabrak sebuah mobil, tapi orang didalam mobil itu tidak bertanggung jawab,” jawab bos dengan dingin.
Perawat hanya mengangguk mengiyakan dan segera menangani pria itu didalam IGD puskesmas yang seadanya. Bos hanya bisa termenung dan berpikir mengapa hatinya tiba-tiba begitu lemah. Saat ia hendak duduk, matanya tidak sengaja melihat seseorang yang beberapa hari lalu sempat ia siksa begitu kejamnya dengan sebuah cambuk. Orang itu berada diruangan tepat disebelah tempat pria tua tadi berada, ia terkulai lemas tak berdaya diatas kasur.
Desiran halus tiba-tiba menggoyahkan hatinya, sesuatu yang basah menggantung dikelopak mata yang selama ini tidak pernah menangis. Ia tersentak kaget saat orang didalam ruangan itu melihatnya, bos langsung menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat.
“Ada apa dengan mata ini, apakah aku menderita minus? Air mata ini terus keluar begitu saja,” bos mengusap matanya beberapa kali.
Orang yang barusan bos lihat adalah orang yang beberapa hari lalu sempat di siksanya karena menghalangi pertengkarannya dengan seorang lelaki sama kuatnya dan itu dianggap musuh oleh bos.
Kaki bos tergerak lagi dengan refleks mendatangi ruangan pria barusan yang tidak sengaja dilihatnya. Saat bos membuka pintu ruangan, pria itu tersentak dan sedikit ketakutan.
“Aku disini tidak akan melakukan apapun padamu,” kata bos saat melihat ekspresi pria itu, “aku disini hanya ingin……” Pria itu menunggu kelanjutan ucapan bos dengan antusias.
“Aku hanya ingin meminta maaf.” Pria itu tersenyum lebar.
“Aku tahu, kata maaf saja tidak cukup, aku akan bertanggung jawab atas semuanya, kau bisa menuntutku dipengadilan nanti, aku tidak akan mengelaknya,” kata bos dengan sungguh-sungguh.
Pria itu hanya tersenyum dan menghela nafas damai.
“Aku tidak akan menuntutmu saudaraku,” kata sedikit tapi bermakna banyak didalam pikiran bos.
“Tidak akan menuntut? Apakah ada orang yang mengancammu juga?”
Pria itu menggeleng, “tidak ada, cukup bagiku untuk melihatmu meminta maaf dan menyesal atas yang telah kau lakukan.”
“Maksudmu?”
“Allah saja maha pemaaf atas hambanya, masa saya yang bukan siapa-siapa tidak memafkan sesama saudara.”
Kali ini, bulir-bulir air mata berjatuhan begitu saja dari mata bos, ia tidak akan mengelaknya lagi, ia yakin ini namanya adalah air mata yang sesungguhnya. Tubuhnya tiba-tiba tersungkur lemas, tangannya gemetaran dan suaranya sesenggukan. Ingatan-ingatan masa lalunya berkelabat dalam benaknya, saat ia menyiksa banyak orang dan melakukan hal yang tidak di perbolehkan Allah, padahal dia menganut status Islam dalam ktpnya.
Kini ia beritiqad untuk bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada semua orang yang pernah di dzaliminya.
Pria yang pernah di dzaliminya beberapa hari lalu namanya Ahmad, dia adalah seorang santri di sebuah pondok pesantren PERSIS. Ahmad mengajak bos untuk menjadi orang yang lebih baik dengan cara menuntut ilmu islam di pondok pesanternnya. Beberapa bulan kemudian bos sudah menajdi orang yang lebih baik dan bermanfaat.
Usia adalah salah satu bentuk rahasia dari Allah SWT. atas hamba-hambanya, tidak pernah ada yang tahu kapan usia kita berakhir, maka tepat pada bulan ke enam saat bos sedang mencari ilmunya. Allah. mecabut nyawanya dalam keadaan dirinya sudah bertaubat dan keadaan hatinya sudah tentram karena sudah jauh lebih dekat dengan Allah. Saat itu usianya baru saja menginjak 23 tahun. Orang-orang yang pernah di dzalimi bos sudah memaafkan dia dan bersyukur karena bos telah berubah menjadi lebih baik.

Usut punya usut, saat Ahmad sedang di cambuk oleh bos karena kejadian agak sepele, Ahmad berd’oa kepada Allah, “Ya Allah, wahai pembolak balik hati, balikkan hatiku kepada agamamu dan saudara hamba yang satu ini, berilah hidayah kepadanya, matikanlah dia dalam keadaan sudah bertaubat dan husnul khotimah.”
Allah mengabulkan do’a Ahmad yang tulus ini, juga beberapa orang yang ikut mendo’akan bos juga. Kebanyakan orang saat didzalimi mereka berdo’a yang tidak baik kepada orang yang mendzoliminya itu, justru Ahmad mendo’akan yang baik-baik.