Cerita pendek (cerpen) ini menceritakan tentang kesedihan seorang laki-laki biasa yang telah ditinggalkan kekasihnya sehingga memilih untuk memeluk diri sendiri. Selamat membaca cerpen tentang kesedihan ini

Aku adalah laki-laki biasa dengan pemikiran yang teramat rumit untuk dimengerti oleh sebagian orang. Aku hidup dengan begitu banyak rencana dan mimpi. Dan aku yakin satu persatu mimpi itu akan terwujud meski tak harus bersama dia.

Ada atau tidak semua rencanaku harus terwujud. Sebelumnya dia pernah mengajarkanku arti jatuh hati sampai membuat aku belajar sendiri tentang melepas pergi. Kubiarkan dia tetap ada di pikiran sebagai kenangan, namun aku juga harus meninggalkan semua yang membuat hatiku terisak. Kubiarkan dia bahagia bersama pilihannya. Sebab beberapa orang sering kali memaksakan dirinya untuk tetap bertahan pada hati yang sudah tidak lagi ada.


Saat itu, kisah kita memang tak berjalan cukup lama. Kamu dihadapkan pilihan antara bertahan dan meninggalkan., sedangkan aku dihadapkan dengan pilihan antara bertahan dan mengalah. Aku ingat saat kamu menangis dengan begitu rapuh terhadap masalah yang menimpamu. Aku adalah pundak yang selalu bersedia menjadi tempatmu bersandar. Telinga yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesahmu. Tangan yang bersedia menyeka setiap air matamu. Dan hati yang bersedia patah untuk membuatmu bahagia.


Dulu aku pernah begitu bahagia, merasa dekat dan tak pernah mersa cemas akan kehilanganmu. Saat itu, pertemuan selalu menjadi hal yang aku tunggu sehingga berubah menjadi candu. Sayangnya, rindumu memilih mencair di pelukan orang lain.

Tak ada dua hati yang menghalangi sebuah pertemuan bagi dua hati yang saling menginginkan. Iya, dulu kita adalah hal yang demikian. Hingga akhirnya, rindumu berpindah nyaman ke hati yang lain.

Aku tak menganggap hal itu adalah hal yang besar. Karena memang benar setiap yang memiliki akan menemukan kehilangan. Bahkan kamu yang mengatakan bahwa kita takkan pernah saling menjauh,dan takkan ada orang yang menjadi pelindung kecuali aku.

Tapi ada sesuatu yang selalu kamu dengar ketika isu itu datang. Hanya kamu yang mampu mendengarnya. Orang-orang di sekitarmu adalah saksi yang bisu. Orang lain hanya tahu tanpa merasakan seperti apa dirinya menjadi terdakwa yang disalahkan.
“Biar saja dia pergi, menemukan kebahagiaannya.”
‘Biarkan saja dia pergi, menjaga hatinya sebaik yang dia mau.”
“Biarkan saja dia pergi, aku tak apa.” Ujarku.

Jangan ceritakan alasanmu memilih dia. Aku bukannya tidak ingin mendengarkannya. Tapi, apakah itu semua penting bagiku? Sama sekali tidak. Kamu keliru, kamu mengira hati akan sembuh dengan aku menerima alasanmu itu. Ambillah kembali alasanmu itu, bawa bersama rasa bersalahmu. Barangkali suatu saat alasan itu bisa memelukmu ketika kamu ingat aku dan merasa butuh. Tinggalkan saja aku, sebab aku tidak pernah merasa sendiri. Kejar apapun yang terbaik untukmu. Kamu boleh kembali jika hatimu patah. Kembalillah jika kamu perlu didengarkan. Tidak perlu takut jika aku marah.

Tak apa, aku sudah terbiasa seperti ini, karena denganmu aku mengetahui mana yan tulus dan mana yang hanya singgah untuk memulihkan lukanya sendiri. Otakku terus bertanya-tanya tentang kenapa cinta harus berakhir dengan membuat hatiku patah.

“Aku masih bisa kuat,” kataku menguatkan diri. Bagiku, tak ada cara yang pantas kecuali menerimanya dengan baik. Percayalah, aku bukanlah orang yang kuat untuk melawan semua rasa kepahitan hidup. Tapi tanpamu kupastikan aku akan tetap bahagia. Karena sekarang bahagiamu bukan bahagiaku. Cukup hatiku saja yang patah dengan perasaan yang penuh dusta.

Suatu saat kamu akan mengingatku. Tak perlu khawatir sekarang aku dengan siapa, bahagia atau tidak. Yang perlu kamu tahu, kepergiannmu waktu itu sama sekali tidak membuatku terjatuh begitu dalam. Hingga akhirnya, aku memilih untuk memeluk diriku sendiri.