ISMA – Persahabatan memang menarik jika dibuat menjadi cerita pendek atau cerpen. Maka dari itu, cerpen persahabatan biasanya memiliki kisah yabg mengharukan atau membuat kita terbawa suasana.

Uh! Susah ya punya sahabat orang terkenal semua. Main jarang, ketemuan ribet, chattingan susah–lebih susah dari nyari gas elpiji yang sempat langka. Bahkan groupchat anak ayam yang keramat itu sekarang berdebu, dihinggapi sarang laba-laba.

Oh? Hallo, aku Shelbia. Panggil aja Bia. Aku punya dua sahabat laki-laki yang tentunya famous.
Biar aku jelaskan, yang pertama Gilar. Dia senang membongkar pasang CPU, mahir menggunakan komputer. Bahkan dia pernah bercerita, pernah meretas akun sosial media seseorang. Mendengar itu aku langsung memperingatkan Gilar untuk tidak meretas akun sosial mediaku.

Tidak. Tidak boleh. Bahaya kalau dia sampai tahu isi chat ku. Isinya kan alay semua, huhu.

Dia juga atlet badminton yang err … ganteng. Bisa dipastikan kalau dia membaca ini hidungnya pasti terbang, beneran deh. Sering menjuarai berbagai perlombaan, tak heran dia terkenal, juga banyak yang suka. Eits tunggu! Perlu dicatat, dia sudah memiliki pawang. Jadi, maaf ya.

Kedua, Santa. Well seperti namanya, dia mirip Santaclous. Tubuhnya sedikit tidak kurus dan tinggi. Aku selalu tertawa jika melihat Santa pergi ke sekolah menggunakan gojek, kenapa? Karena tubuhnya lebih besar daripada motor juga si amang gojek. Haha. Oh, Santa maafkan aku.

Tapi terlepas dari itu, dia adalah murid cerdas disekolahnya. Sejak SMP dia selalu peringkat pertama, sulit sekali mengalahkan Santa. Sekarang saat sudah masuk SMA, aku dengar dia menjadi wakil ketua OSIS bahkan saat masih kelas sepuluh.

Owaw! Sepertinya saat Tuhan melakukan pembagian jatah bakat dan kemampuan pada manusia, dia menyerobot milik orang lain. Dia juga sedang dekat dengan salah satu kakak kelas manis. Haha.

Baru-baru ini juga dia memenangkan lomba debat tingkat provinsi. Tuh kan, aku makin yakin dia menyerobot bakat dan kemampuan orang lain saat masih janin. Yaampuun … kenapa kalian berdua sudah maju? Sementara aku, masih seperti anak ayam yang sedang treadmill.

Aku hanya mengikuti beberapa olimpiade itupun tidak pernah menang, huhu. Aku ingin menangis tapi, aku juga bangga punya sahabat kayak kalian.

Ah, I really miss them.

Ting!

Dentingan oven membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan berjalan menuju benda itu, mematikannya lalu mengeluarkan kue didalamnya menggunakan sarung tangan khusus.

Ya, aku sedang membuat kue juga memasak makanan untuk pesta. Oh! aku belum sempat bercerita, hari ini adalah hari ulangtahunku. Dan aku berencana akan membuat pesta kecil-kecilan bersama Santa dan Gilar.

Aku sudah memberitahu mereka, satu bulan yang lalu melalui chat pribadi. Tapi, hanya Gilar yang merespon. Santa sama sekali tidak membaca pesanku. Yeah, mungkin dia sibuk dengan jabatannya dan aku bukan lagi prioritas.

Tapi, apakah mereka masih ingat?

Aku tidak mungkin selalu mengingatkan mereka, karena aku bukan Masha yang bawel mengingatkan beruang tentang ulangnya setiap hari. Bisa-bisa nomorku diblockir sama mereka karena menspam.

Aku hanya kembali mengingatkan mereka untuk datang dipestaku, melalui groupchat ‘anak ayam’ yang sudah berdebu–lama tak digunakan, itupun seminggu yang lalu.

Apa mereka akan datang?
Aku jadi ragu, baru ingat kalau bulan ini Gilar mengikuti perlombaan bulutangkis.

Huft … semoga mereka datang.

“SHELBIA!” teriak seseorang, aku terperanjat dan hampir menjatuhkan kue yang aku pegang.

“Hah? Apa?” Ekspresi wajahku campuran antara kaget dan cengo.

“Ituu … Pancake nya gosong!”

Aku melirik wajan yang sedikit mengepulkan asap. Mataku membola, dengan cepat aku membantu Alula–kakakku– mematikan kompor dan mengangkat pancake yang gosong.

Aku membuang napas berat. Yaah, pancake kesukaan Gilar gosong.-batinku.

“Bia, kamu ngelamun ya?” tanya Alula.

Aku tidak menjawab.

“Kamu mikirin apasih? Santa sama Gilar? Kamu takut mereka gak dateng?”

Apa? Kok, Alula bisa tahu pikiranku. Aku mendongak, membalas tatapannya yang sama sekali belum terlepas dari mataku.

Aku menggeleng.
“Gak kok. Aku yakin mereka bakal dateng.” tanganku bergerak melepaskan celemek dan sarung tangan kue. “Itu makanannya udah semua,kan?”

Alula mengangguk.

“Oke kalo gitu. Udah jam tiga, aku mau siap-siap dulu.”


“Oke, Nice!”

Aku berseru bangga, setelah menaruh tisu dimeja. Aku berkacak pinggang sembari mengedarkan pandangan kesekitar tempat dimana  pesta akan diadakan. Tempat ya … bisa dibilang Basecamp kami bertiga.

Sebuah tempat kecil yang lebih mirip seperti gudang, terletak di rooftop rumahku yang lama.

“Oke, makanan udah,” Aku memindai kembali makanan yang tersaji diatas meja. Ada pancake kesukaan Gilar, makaroni kesukaanku, kripik kesukaan Santa dan colla untuk minumannya. Semua makanan lengkap kecuali kue yang tadi aku buat. Aku tidak jadi membawanya saat Alula bilang kue ini rasanya hambar–ternyata aku lupa memasukan gula, karena sering melamun.

Huft … Semua ini gara-gara mereka berdua, awas saja kalau tidak datang. Aku sudah capek mempersiapkan ini semua sendiri.

“Dekorasi udah,” aku mengangguk, tempat ini sudah cantik dipenuhi balon berwarna biru, ada lampu tumbler, satu meja dan tiga kursi berada diluar. Aku tersenyum.
“Nah, Bia nya juga udah cantik.”
seruku sambil memutar badan.

Sore ini, aku mengenakan dress selutut warna biru dan mengepang satu rambut panjangku. Aku duduk disalah satu kursi, senyumku tidak pernah pudar.

“Sekarang tinggal nunggu mereka datang. Lima belas menit lagi.”

Sambil menunggu, aku memainkan ponsel agar tidak bosan. Mengirim pesan pada Santa dan Gilar agar tidak terlambat datang. Tapi tidak ada balasan, bahkan dibaca pun tidak. Aku mengangkat bahu acuh, tidak mau kepikiran, jariku memencet aplikasi Instagram, menstalk aku orang lain.

Aku yang terlalu larut dalam sosial media, memekik kaget saat melihat jam tangan. Pukul 17:21 p.m.

“Yaampun! Udah jam segini, kok mereka belum datang ya. Janjiannya kan jam lima.”

Aku bergerak gelisah, segera menepis pikiran buruk yang tiba-tiba menyerang otakku tentang mereka.

“Nggak, mereka pasti datang.” Aku terus meyakinkan diriku, tapi hatiku tidak yakin dengan apa yang aku katakan.

“Tunggu setengah jam lagi deh, mungkin mereka kejebak macet.” Aku mengangguk, kembali duduk dan merapihkan hal-hal kecil, agar terlihat sempurna.

Tiga puluh menit berlalu, matahari hampir tenggelam langit berubah jingga, tapi kedua cowok sialan itu belum menunjukan batang hidungnya.

“Jadi datang gak sih mereka.”
Sumpah serapah terus keluar dari mulutku tanpa bisa ditahan.
Aku menarik kasar pancake blueberry itu, lalu menancapkan dua lilin kecil diatasnya. Kemudian kembali menunggu dengan wajah ditekuk.

Lima belas menit berlalu, sang surya sudah tidak terlihat lagi, langit sudah gelap sepenuhnya.
Sekarang, lampu tumblerlah yang  menerangi tempat ini.

“Mereka … gak datang ya?” suaraku berubah serak dan lirih.
Aku menatap nanar pancake dihadapaku. Lalu menyalakan lilin yang sudah tertancap disana.

Mataku yang berkaca-kaca memindai setiap sudut. Bisa saja kan, mereka bersembunyi lalu tiba-tiba mengagetkanku. Tapi, nihil. Mereka benar-benar tidak ada.

Aku membuang napas kasar, dengan suara serak dan pelan aku mulai bernyanyi. Ya, sendiri.

“Happy birthday to me! Happy birthday to me! …” Aku menarik nafas, yaampun kenapa sesak sekali.

Meskipun berat, aku tetap melanjutkan nyanyiankanku.
“Happy birthday! Happy birthday … ” Mataku terpejam, menahan air mata yang mendesak keluar. “… Happy birthdaay tooo mee!”

Fyuuuhh!

Aku segera meniup lilinnya, bersamaan dengan padamnya api lilin, saat itu juga air mataku jatuh.

Tes!

Oh, yaampun. Aku tidak menyangka akan merayakan  pesta ini sendiri. Miris. Apa mereka udah gak peduli ya?
Ya, mungkin.

“Kalian tega ya, aku udah capek-capek nyiapin ini semua.” Aku tertawa hambar kemudian tersenyum miris. “Jahat banget kalian gak datang.”

Aku memotong pancake blueberry itu kasar. Menyuapkan satu suapan besar kedalam mulut. “Mati-matian aku bikin pancake ini, meskipun gosong berkali-kali. Dan kripik itu,”
Aku menatap satu toples kripik kentang diseberang meja dengan tatapan berapi-api. “Kalau aja kamu tau Santa, susah banget dapetin kripik rasa greentea itu. Hah!”

Ini jam tujuh malam, aku sudah menunggu mereka dari sore. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Untuk apa juga aku masih disini. Toh mereka juga tidak akan datang.

Dengan emosi, aku melempar sendok tanda pelampiasan. Napasku berubah kasar. “Aku kecewa sama kalian.”

Gigiku bergemeletuk hebat, tangan ku mengepal kuat.
“AKU BENCI SAMA KALIAN”

Teriakku, melepaskan semua emosi yang ada. Aku beranjak kemudian berlari kencang meninggalkan tempat itu, dengan air mata yang tidak bisa dibendung lagi.


“Bia? Kamu gak apa-apa, kan? Buka dong pintunya.”

Yaampun, itu suara Alula ganggu banget. Aku kan pengen tidur, emangnya tidak capek apa lari dari basecamp ke rumah?

Capek tahu!

Aku benar-benar lelah. Berjam-jam terus nangis, gara-gara dua cowok idiot itu. Aku yakin mataku pasti sangat merah dan yaampun! Kenapa ingus aku keluar terus, ngabisin tisu aja.

“Biaa! Ada yang pengen ketemu sama kamu. Buka dong dek!”

Ish, siapa sih yang bertamu malem-malem.

“Siapa kak?”

“Keluar aja dulu.”

Aku mendengus, menyibak selimutku lalu beranjak. Aku sempat melirik cermin, memperlihatkan
Penampilanku yang sangat buruk. Piyama biru bertabur gambar ayam kecil-kecil berwarna warni juga rambut yang acak-acakan karena aku melepas paksa kepangan. Tapi, ah bodo amat.

“Siapa sih kak? Ganggu aja! Gak tau apa ak—ha?”

Kalimatku terhenti saat kedua netraku menangkap dua sosok aneh dibelakang Alula sedang memegang kado dan kue brownis dengan lilin diatasnya. Mataku membesar seolah ingin menggelinding keluar.

Oh, God! Aku tidak percaya ini.

“Santa, Gilar?”

“Happy birthday to our chicks!” ucap Gilar sambil tersenyum seperti kuda.

Siapapun, tolong ambilkan aku tongkat bisbol yang sudah lama menganggur di lemari Alula. Demi apapun, aku ingin menampol wajah gantengnya. Menyebalkan

“Hey chick! Selamat ulang tahun!”

Kali ini Santa yang bersuara. Oh, aku ingin memukul perut Santa yang semakin hari semakin besar. Tinggal tambah janggut dan kumis putih, aku yakin tidak bisa membedakan mana Santa mana Santaclous?
Atau mereka adalah ayah dan anak? Hmm, bisa jadi.

Awalnya aku sempat protes dengan panggilan ‘chick’ yang mereka berikan. Itu jelek sekali. Aku sering bertanya apa artinya, tapi mereka selalu menyuruhku mencari dikamus, artinya ada dua. Setelah aku tahu pipiku langsung merona, mereka selalu
bisa membuat aku senang dengan cara yang aneh.

“Cepet tiup lilinnya! Pegel nih.”

Gilar berkata tidak sabaran. Haduuh, tunggu sebentar bisa?
Aku sedang berusaha menahan air mataku. Aku senang sekali, emosi yang sedari tadi berapi-api kini padam. Seolah tidak pernah ada, begitu melihat mereka terus tersenyum tulus padaku. Aneh.

“Tiup lilinnya! Tiup lilinnya!
Tiup lilinnya sekaraang juuga!
Sekarang jugaaa!”

Santa terus bernyanyi sambil berusaha bertepuk tangan dengan tangan yang penuh dengan kado. Aku tersenyum semakin lebar hingga mataku terus menyipit. Dan satu tetes air mataku lolos, lalu beberapa detik kemudian menjadi deras.

“Huweeee!”

“Wow, wow, wow, Shelbia kenapa?” Gilar bertanya heboh.

“Heey! Anak ayam gak boleh nangis.”  Santaaa … Aku jadi ingin tertawa, tapi sulit. Air mata ini terus saja mengalir. Membuat semua orang diruangan ini panik, termasuk Alula.

“Biaa? Kenapa nangis? Udah dong.”

Ini tangisan bahagia, aku sama sekali tidak keberatan. Tanganku dengan sigap menghapus air mataku kasar. Segera berlari kearah Santa dan Gilar, kedua tanganku refleks memukul perut mereka. Tenang saja, tidak kuat kok. Aku yakin mereka tidak akan kesakitan, ini hanya pelampiasan rasa kesalku saja.

“Aw awwh! Aduh!” mereka merintih. Halah, itu hanya pura-pura.

“Kalian tega ya! Aku udah nunggu lamaaa banget, tapi apa? Kalian gak datang. Srooott—” Yaampun kenapa ingusku ini tidak bisa berhenti keluar. “—Dan sekarang, kalian datang kayak jalangkung. Oh God! Lihat jam berapa sekarang! Jam sembilan malem, yaampun kalian bertamu gak tau waktu.” cerocosku dan mereka hanya cengengesan.

“Masih syukur kita Datang, Bi.
You know? Kita kan famous. Gilar juga baru pulang dari perlombaan bulutangkis.”

Aku melirik Gilar malas, dia masih saja setia memegangi kue brownis itu. “Ya ya, terserah kalian.”

“Cepet tiup lilinnya, setelah itu kita pergi.”

“Hah? Kemana?” Aku menatap Gilar bingung.

“Basecamp.”
.
.
.
Aku tidak menyangka akan merayakan ulang tahunku seperti ini. Dengan berbalut piyama ayam dan rambut acak-acakan hanya diikat satu. Sementara mereka terlihat keren, tidak adil.

Setidaknya biarkan aku ganti baju dengan dress tadi sore. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan aku waktu. Mereka bilang aku sudah cocok dengan baju ini. Hah! Ini sungguh diluar ekspektasi.

“Aduuh, siapa yang dekor tempat ini? Norak banget. Ini juga, ada lampu-lampu, ih alay.”

“Heh!”

Aku memekik tidak terima, apa-apaan? Dengan santainya Santa ngomong gitu. Tidak tahu apa, aku mati-matian dekorasi ini.

“Seharusnya, jangan pakek balon. Lihat tuh kempes.” Santa terus memprotes dengan mulut yang penuh kripik.

“Tadi sore kan gak kempes.” sahutku datar.

“Ih, pancake nya kok gosong. Pahit lagi, selainya juga kurang.”

Apalagi? Sekarang Gilar berulah.
Mereka tidak bisa diam barang sebentar saja. Aku jadi tidak bisa menikmati makaroni kesukaanku.

“Kenapa minumannya hanya colla? Bia gak boleh minum soda.” protes Gilar lagi.

Haduuh, kepalaku pusing.
Aku harus meminta ijin setiap kali melakukan hal baru. Mereka pernah memarahiku saat aku diam-diam menonton film manusia purba Homo Sapiens dan tokohnya tidak pakai baju semua. Sekarang, apa aku harus ijin untuk meminum soda?  Huh dasar protektif sekali. Dan itu kadang membuatku risih.

“Sebaiknya kalian diam!” Aku mendengus kesal. Memakan makaroni ku tidak sabaran.

“Eh, kok marah.” sahut Santa. Ekspresi mereka mulai berubah, lebih melembut. “Yang tadi bercanda Bi, kamu hebat banget nyiapin ini sendiri.”

“Iya. Pancake ini juga gak terlalu buruk kok.”

“Gitu dong.”

Tiba-tiba mereka langsung menyodorkan sebuah kado kehadapanku. Mataku berbinar.

“Nyari kadonya susah loh. Lagian mintanya aneh banget.” Aku nyengir, dan Gilar mengusak rambutku gemas. “Happy birthday chick!”

Aku beralih pada Santa yang mendorong-dorong kotak besar padaku. “Mintanya bisa yang simpel dikit? Ribet tahu.”

Aku cengengesan, jangan tanya aku minta apa. Kalian pasti akan tertawa mendengarnya.
“Ya, maaf.”

Santa mengangguk lalu mencubit pipiku lama. “Selamat ulang tahuuuunn!~” ucapnya bernada.

“Makasih. Udah meluangkan waktunya untuk datang ke pesta yang gak penting ini.”

“Sama-sama.” ucap mereka kompak.

Aku senang sekali. Akhirnya aku bisa kumpul sama mereka. Makaroni yang aku makan pun makin terasa enak. Apa efek bahagia ya?

Drrrt! Drrrt!

Ponselku berbunyi, sepertinya ada panggilan masuk. Saat aku akan menerima panggilan, Gilar lebih dulu mengambilnya. Aku tidak peduli, kembali fokus pada makaroniku.

Kening Gilar berkerut saat membaca nama penelpon.
“Hei, yam!”

“Hm?”

“Arkam siapa?”

“Uhuuk!”

Aku tersedak makaroni, Gilar langsung memberiku air. Sementara Santa, masih sibuk memakan kripik sambil memperhatikan kami.
Duh, gawat! Aku belum sempat memberitahu mereka.

“Hah? Ituu … Dia pacarku.” Aku tersenyum bak model iklan pasta gigi.

“APAA?!” pekik mereka kompak.
Mata mereka menatapku nyalang. Jantungku berdetak tak karuan. Bagaimana ini?

“Kok gak ngasih tau kita?” tanya Santa.

Aku mengatur napas, mencoba tidak panik. Lalu menjawab setenang mungkin. “Kalian kan sibuk. Kalau aku kasih tau kalian, nanti ganggu lagi.”

“Setidaknya, kasi tau dulu Bi.”

“Benar. Sibuk atau enggak itu bisa diatur.”

Aku memutar mata jengah, mereka terus mengoceh bergantian. Aku sama sekali tidak memikirkan perkataan mereka. Yang aku pikirkan adalah bagaimana nasib Arkam nanti? Setelah ini, pasti Santa dan Gilar akan mengintrogasinya. Hah! Poor Arkam!