Karya: Maharani Istiqomah X IPS 1

ISMAIni sudah awal bulan April, Ibu pasti menyuruhku untuk belanja bulanan. Membeli barang kebutuhan untuk persediaan sampai akhir bulan nanti.

“Dek, ini list nya. Awas jangan belanja yang tidak perlu.”

Ibu menyodorkan selembar kertas yang berisi nama-nama barang yang harus aku beli beserta uangnya.

“Iyaa Bun. Tapi kalo ada uang lebih, boleh dong ya.”

“Kalo itu penting buat kamu, ya silahkan. Tapi inget, harus hemat.”

“Iya iyaa.”

Aku mengambil sembungkus roti dan memakannya. Sekarang, aku sedang berada ditoko roti ibu. Membantunya berjualan, hari ini pelanggan cukup banyak.

“Dianterin sama Abang atau sendiri ke swalayan nya?” Ibu bertanya tanpa melirikku, sibuk merapikan roti.

“Sendiri Bun. Bentar ya lima menit lagi, tanggung tinggal setengah.” Aku mengacungkan roti yang tinggal setengah.

“Tapi, itu Abang kamu dateng.” Ibu menunjuk ke arah pintu, dan disana ada sosok laki-laki yang berusia diakhir belasan tahun. Berjalan mendekat dengan pakaian casual. “Mungkin mau ambil kunci rumah, kali ya.”

Mengangkat pundak acuh lalu kembali memakan roti. Ditengah kunyahan, aku teringat sesuatu.

“Tapi kan kunci rumah selalu disimpan dibawah pot bunga. Dia juga tau, kenapa kesini?” Aku bertanya heran.

Laki-laki itu sudah berada dihadapanku setelah salam dengan ibu.

“Dek, kunci rumah mana?”

“Kan dirumah Bang, gak dibawa sama adek.”

“Gak ada. Udah dicari dibawah keset, diatas pintu, diatas mesin listrik juga gak ada.”

Aku berkacak pinggang. “Dibawah pot bunga, Bang.”

“Cari sama kamu deh. Ayo, pulang.”

“Apaan, nggak. Adek mau belanja ke swalayan.”

“Yaudah bareng, kan searah.”

Aku berpikir sejenak, sebenarnya aku ingin berjalan kaki ke swalayan. Hitung-hitung olahraga, jaraknya lumayan jauh.

Tapi setelah dipikir-pikir, sekarang sudah mulai panas.
Duh, males banget jalan kaki. Terima ajalah, lumayan gratis.

“Oke deh. Bun, adek pamit ya. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”


“Bang ih, kelewat! Itu tokonya.”

Aku memukul-mukul helm yang dipakainya.

“Oh iya.” Dia memutar balik motornya, tapi tidak berhenti didepan toko swalayan. Motor ini  malah melaju memasuki gang yang berada disamping toko.

Aku kembali memukul helm nya. Itu sudah menjadi kebiasaan ku jika kakakku salah jalan atau tidak mau memberhentikan motornya. Tenang tidak akan sakit kok.

“Eh, kok malah masuk gang? Bang stop! Tokonya, kelewat jauh.”

Seakan tuli, dia tidak memberhentikan motornya. Eh, tunggu? Ini bukannya jalan ke rumah ya?

Aku melihat ke kanan dan kiri lalu menjentikkan jari. Tuh kan benar.

“Bang, kok malah ke rumah sih?”

Dia tidak menjawab, ish kesel.

Kakakku baru menghentikan motornya saat sudah berada dihalaman rumah.

“Turun!” titahnya.

Aku turun, lalu melepas helm. Setelah itu apa? Aku menatap kakakku dengan amarah yang sedari tadi ditahan.

“Cari kuncinya!”

Aku melotot. Jadi alasan dia membawaku kesini, hanya untuk mencari kunci rumah? Padahalkan dia bisa sendiri. Aku berlalu meninggalkan kakakku.

Jalanku dihentak-hentakan karena marah. Aku mengangkat pot bunga dan menarik kunci itu dari sana.

“Lihat, ini kuncinya!” Aku menggoyang-goyangkan kuncinya diudara.

Setelah itu, aku memasukan benda itu ke lubang kunci pintu. Memutarnya kekiri sebanyak dua kali.

Masalah terjadi saat aku kesulitan membuka pintu. Seperti ada yang menahannya dari dalam.

“Eh kok susah sih?” Aku mendorong pintu.  Benar, ada yang menahannya dari dalam.

“Bang, pintunya gak bisa dibuka!”

“Lewat gudang masuknya!”

Aku mendengar suaranya, tapi tidak melihat orangnya. Kemana dia?

Aku berjalan ke arah gudang, pintu gudang ini tidak dikunci. Tapi hanya bisa dibuka dari dalam. Maka dari itu, aku membuka jendela yang berada disamping pintu. Aku memasukan kepala dan tangan kedalam melewati jendela. Tapi…

“HUWAAAA!!”

Itu bukan suaraku. Teman-temanku yang berada didalam gudanglah yang berteriak. Terkejut melihat kepala dan tanganku tiba-tiba muncul dari luar jendela. Haha.

Tapi tunggu, kenapa mereka berada disini?

Dan kenapa mereka membawa kue ulangtahun?

“Yaampun Dei! Ngagetin aja. Ngapain muncul dari situ? Kan ada pintu.” ucap salah satu temanku yang memegang kue.

“Hah?”

Aku baru sadar, masih berada dijendela, langsung membuka pintu dan masuk.

“Kalian berempat, kok bisa ada disini?”

“Berkat kakak kamu. Kita mau bikin surprise. Sekarang ulang tahun kamu, Dei.”

“Oh ya?”

Mulutku terbuka. Aku lupa, benarkah hari ini ulang tahunku? Jadi mereka bekerja sama dengan kakakku? Pantas saja.

“Terus, kenapa pintu depan gak bisa dibuka?”

“Kita geser sofa buat nahannya. Hehe. Sorry.”

Aku mengangguk. Itu tidak masalah. Tiba-tiba, aku merasakan tepukan bahu dari samping. Oh, kakakku rupanya.

“Siniin.” Kakakku membuka telapak tangannya.

“Apanya?”

“Itu list belanjaan sama uangnya. Biar Abang aja yang belanja ke swalayan.”

“Hah?! Serius Bang?” Aku memekik senang.

“Iya. Kamu sama temen-temen aja.”

“Yakin?”

“Iya. Cepetan! Nanti berubah pikiran lagi.”

“Banyak lho, belanjanya.”

“No problem.”

“Yaudah deh.” Aku merogoh saku dan mengeluarkan apa yang kakakku minta.

“Nih. Hati-hati ya.”

Aku menggulum bibir menahan tawa. Belum tahu aja dia, kalau toko swalayan itu selalu penuh.

Selamat berdesak-desakan disana kakakku. Haha.

“Abang kamu baik banget. Mau gantiin belanja.” ucap temanku saat kakakku sudah pergi.

“Yeah, He is my lovely brother.”

Aku tersenyum. “Lupain. Kita have fun aja. Eh, tunggu-tunggu kok angka lilinnya nol?”

“Lilin yang kecil-kecil kesukaan kamu, susah dicari. Yaudah yang ada aja.”

Aku mengangguk. “Tapi ya jangan, angka nol juga. Kan bisa sesuai usia?”

“Inikan hari lahir kamu. Harus membuka lembaran baru, memulai semua dari awal. Dari nol. Gitu, filosofi nya.”

“Ya ya, terserah.”

Aku langsung meniup lilinnya, diantara mereka ada yang mengabadikan moment ini lewat kamera ponsel. Setelah itu kami bermain bersama.

Sementara ditempat lain…

“Telur udah, susu udah, sabun udah. Tinggal satu lagi, apa ini? Oh pembalut.”

Hah serius? Aku harus membeli benda ini. Yaampun, dimana raknya?

Bruk!

“Duh maaf.”

Barang-barangku berjatuhan dari keranjang yang sudah penuh, tidak sengaja tersenggol seseorang. Aku langsung memungutinya.

“Iya, tidak masalah. Lain kali hati-hati.”

Aku kembali berjalan menyusuri rak, mencari roti Jepang.

“Nah, itu dia.” seruku saat melihat rak pembalut berjejer rapi. Aku mengambil secara asal dan memasukannya ke keranjang.

“Awas saja kalo Dei sampai protes gara-gara salah beli pembalut. Emangnya gak malu apa beli ginian? Lagian kenapa gak ditulis mereknya coba.”

Semua belanjaan, sudah lengkap. Tinggal bayar ke kasir. Aku terbelalak melihat betapa banyaknya orang berkerumun di meja kasir.

Toko segede ini, kasir cuma satu? Kenapa tidak ditambah? Dan lihat, pembeli tidak tertib mengantri. Malah berkerumun, ingin lebih dulu dilayani.

Kalau begini caranya, akan menghabiskan banyak waktu.
Aku mengurut pelipis, menyesal karena bersedia menggantikan Dei belanja bulanan.

“Haduuh, gak bakalan lagi deh. Belanja kayak gini. Ribet.”