ISMA – Wabah Covid-19 masih menjadi trending, tapi hal itu bisa menjadi karya seperti cerita pendek atau cerpen. Bagi kalian yang sekarang lagi di rumah dan gak bisa kemana-mana, mending baca cerpen tentang wabah ini.

“Aku bahagia ada pandemi di dunia ini” Ucap seorang wanita bernama Alyssa kepada temannya yang berada di sebrang sana.

Bola mata Fahira membulat. “Ko kamu bahagia, sedangkan orang diluar sana mereka takut kehilangan isan yang dicintai sejak lama” ucap Fahira.

Alyssa tersenyum mendengar penuturan temannya. “Kalo kamu hanya mengira aku ga takut kehilangan orang yang aku sayang kamu salah, aku bahagia karena apa yang pernah hilang dan aku dambakan kini hadir dan kembali saat hadirnya pandemi ini.” Alyssa memberi jeda sambil memejamkan kedua bola matanya. “Aku, seorang anak yang sudah lama merindukan waktu berkumpul dengan keluarga, aku rindu kasih sayang dari kedua orang tua aku, aku rindu bercanda bareng sama mereka. Kebersamaan itu sudah hilang semenjak orangtua aku sibuk dengan pekerjannya.

Apakah aku salah bila aku bahagia disaat hadirnya pandemi ini? Mungkin sebagian orang akan berpikir aku aneh atau gila. Tapi apa daya, aku sangat bersyukur atas hadirnya pandemi ini. Karena pandemi ini, hidupku seperti bunga layu yang kini berubah menjadi bunga yang indah meski pernah mengalami patah. Orangtua ku adalah mentari. Mereka yang menjadi penerang dan pemberi semangat meski terkadang aku terluka karena kesibukan mereka. Dan karena adanya pandemi ini aku bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku, aku bisa menghabiskan banyak waktu dengan mereka, meski aku tahu mungkin suatu saat aku takkan kembali merasakan kebahagiaan ini.

“Apakah aku harus selalu terluka untuk mendapat kasih sayang mereka? Apakah aku salah atas apa yang aku inginkan untuk sebuah kebersamaan?” Lanjut Alyssa yang sudah berlinang airmata.

Hati Fahira teriris melihat temannya yang selalu ceria kini dihadapannya berlinang airmata. Fahira tak menyangka bahwa temannya memiliki masalah yang tak mudah. Fahir tak kuasa mendengar rintihan yang sangat memilukan. Bahkan kini aksa nya ikut berkaca-kaca. “Kamu gak salah Ais.” Bahkan kamu itu terlalu sempurna untuk menutupi seluruh luka yang kamu alami. Maaf aku tidak mampu merasakan sakit atas renjana yang kamu alami karena aku tak bisa mengklaim bahwa aku tahu segala isi hati kamu.

Aku salah bila aku berkata aku faham akan deritamu. Aku salah bila aku mengatakan bahwa aku merasakan apa yang kamu rasakan. Ais, cobalah kamu berbicara kepada orangtuamu perihal apa yang kamu rasakan selama ini, dan barangkali setelah kamu berbicara akan ada perubahan baik yang akan kamu dapat sesuai keinginan dan apa yang kamu butuhkan. Sadari, resapi, hadapi, nikmati, syukuri semua sudah pada kadar ketentuan nya masing-masing.

Qouluhu Taala La Tahzan Innallaha Ma’ana, Inna ma’al usri yusro, Wallahu yuhibbussobirin” ucap Fahira menyemangati yang dibarengi dengan seulas senyum yang menenangkan.

Hati Alyssa terenyuh, Alyssa tersenyum manis. Alyssa mengucapkan terima kasih kepada Fahira yang sudah menguatkannya. Alyssa malu kepada Fahira atas apa yang dia utarakan. Kini Alyssa sadar ga semuanya harus diketahui, gak semuanya bisa di bicarakan, dan gak semuanya harus dinyatakan. Terkadang lebih baik diam dan menceritakan segala keluh kesah pada Sang Pencipta.

Alyssa bersyukur mendapatkan seorang teman yang selalu ada untuknya, Alyssa sangat bahagia memiliki teman yang mampu mengingatkannya kembali pada kebaikan dan kebenaran.