CERPEN

Cerpen Thriller Misteri: Detektif Supernova

Oleh Siti Shafira (X MIPA 5 MAN 1 Cianjur)

ISMA – Seorang anak dengan langkah santainya memasuki kelas sepuluh dua yang lengang tak berpenghuni di sela-sela jam istirahat. Ia memakai jaket hoodie berwarna merah yang dikuplukkan menghalangi sebagian wajahnya.
Sebuah kertas berwarna putih ia simpan ke dalam tas merah, tas milik seseorang yang entah pergi kemana. Tak lupa, ia mengancingkan lagi tas itu agar tidak ada yang curiga.

Setelah menyelesaikan aksinya, ia segera meninggalkan kelas itu tanpa meninggalkan bukti sedikitpun. Seringainya terlihat dari wajahnya saat ia melenggang keluar dari balik pintu.

Teng…

Bel masuk mulai bersahutan, mengabarkan kepada semua orang di penjuru sekolah tentang pelajaran yang akan dimulai sebentar lagi.
Anak-anak kelas sepuluh hingga dua belas mulai memasuki kelasnya. Begitupun dengan siswa kelas sepuluh dua, mereka berbondong-bondong masuk kedalam kelas. Walaupun keributan masih terdengar didalam kelas, tapi sudah dipastikan mereka semua masuk.

“Aaaaaa…. “

Tiba-tiba, suara teriakan mengheningkan keributan.
Semua orang segera menghampiri siswi yang berteriak itu, namanya Fania.
“Ada apa Fania? ” tanya mereka.
Gadis itu tidak berucap sedikitpun, malahan ia melempar sebuah kertas putih.
Argo selaku KM di kelas itu mengambil surat yang tergeletak di lantai, ia menelisik lebih dalam isinya, ia sama terkejutnya seperti Fania.
“Siapa yang berani-beraninya ngasih surat kayak ginian hah? ” tanyanya dengan sarkas. Ia tidak habis pikir dengan orang yang tega-teganya memberikan surat berisi ancaman kematian pada Fania.

“Apa itu emang Go? ” tanya seorang siswi.
“Ada yang ngancam Fania soal kematian, kalian jangan main-main dengan semua ini! ” titahnya, “jika tidak ada yang mau mengaku, saya akan laporkan ke kepala sekolah dan BK! “
Kelas mendadak hening dan tidak ada yang menjawab. Argo mengangguk dan menarik nafasnya dalam-dalam, “baiklah, keputusan ini sudah bulat, Fania, kamu ikut aku! “
Fania hanya mengangguk dan mengekori Argo dari belakang. Mereka berdua berjalan menuju ke kantor kepala sekolah dan mengadukan perbuatan tidak masuk akal itu.
“Baiklah nak Argo dan Fania, saya akan segera menangani kasus ini, kamu tidak usah khawatir Fania, mungkin ini hanya main-main saja, ” ujarnya.

Fania mengangguk begitupun Argo yang berusaha meyakinkan gadis itu.

Keesokan harinya, Fania datang ke sekolah pagi-pagi sekali di antar ayahnya. Ada rasa kekhawatiran di benaknya saat ia mulai melangkahkan kaki memasuki kelasnya.
Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintu kelas, hanya ada Fania seorang didalam sana.
Dengan khawatir, gadis itu berjalan perlahan ke luar kelas. Saat sampai, tidak ada siapapun disana, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin itu hanya halusinasi nya saja, pikirnya.

“Dorr!! “

Seseorang membuat Fania terkejut, “Yaaa… ” gadis itu tidak sanggup untuk membuka matanya, saking takut.

“Hei Fania, kamu tidak usah takut, ” ucap seseorang, “buka matamu! ” titahnya.
“Nggak! Pasti kamu mau bunuh aku kan?” tanyanya dengan polos.
“Aish… justru kita mau nolong kamu, ” ucapnya.
Fania masih enggan membuka matanya.
“Siapa, siapa itu? Katakan! ” teriak Fania.
“Shutt… jangan berisik, entar di kira kita buat macem-macem sama kamu, buka dulu makanya mata kamu! “
“Iya, aku buka nih… ” akhirnya Fania membuka matanya dan kejutan, dua pria yang merupakan siswa di sekolah ini hadir didepannya, “hah? kalian? “
“Iyaa… ” sorak salah satu dari mereka bernama Dione, “kita adalah… “
“Detektif Supernova, membuat keadilan luar biasa bagai ledakan bintang yang mengejutkan, ” teriak Fobos.

Fania hanya menatap mereka berdua dengan keheranan, ” Sejak kapan disekolah ini ada Detektif Supernova? ” tanyanya.
“Itulah kekurangan mu Fania, kurang peka… ck ck ck… “
“Hah? Yasudahlah, jadi, kamu mau membantu apa? “
“Perkenalan dulu biar resmi , aku Fobos dan ini rekanku Dione, kami dari kelas sepuluh satu,” mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Fania, kelas sepuluh dua.”
” Oke Fania, kamu bisa ikut kami, ” ucapnya.
Fania hanya mengangguk dan mengikuti kedua pria aneh di depannya ini. Mereka berjalan menuju taman dan duduk di salah satu bangku yang menghadap langsung ke gerbang utama sekolah. Mereka hanya duduk di situ tanpa berkata-kata.
“Yak! Jadi apa yang mau kalian jelaskan” tanya Fania dengan sarkas.
“Shutt… kita disini mau menyelesaikan kasus surat ancaman mu, pelakunya akan segera datang, ” ucap Fobos.

“Yap… sebenarnya kami melihat pelaku itu masuk kedalam kelasmu kemarin ketika istirahat, dengan jiwa detektif kami yang sudah mendarah daging, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil kasus ini dan menyelidikinya, ” ujar Dione secara panjang kali lebar jadi luas sekali.
Menurut praduga kami, pagi ini ia akan meletakkan satu surat lagi di tasmu. “

“Apa? ” Fania berteriak histeris.
“Shhuhh… orang itu datang, ” menunjuk pria berbadan tinggi yang mengenakan jaket berkupluk. Mereka memperhatikan orang itu hingga hilang dari peredaran.
“Siapa itu? Kenapa kita tidak mengikutinya? ” tanya Fania.
“Tenang saja, kami sudah memasang kamera kecil di sudut ruangan kelasmu. “
“Kapan? “
“Tadi, saat kau menutup mata, ” kata Fobos santai.
“Hah? Secepat itu? “
“Sebenarnya, saat kamu menutup mata dan mengoceh, kami menyahuti mu dari dalam kelas, ya memanfaatkan waktu yang ada, sebelum pria itu datang. “

“Oh ya, pria itu sudah mengetahui semua aktivitasmu, jadi dia tahu kamu datang ke sekolah jam berapa dan kemana aja, makanya dia berani menyimpan surat jam segini karena dia tahu kamu lagi ke perpus. “

“Apa? Siapa dia? ” tanyanya.
Dione melihat jam yang bertengger di tangannya, “Sudah waktunya ayo pergi! “
“Ayo! ” Fobos berlari mengejar Dione yang sudah pergi lebih dahulu.
“Woi manusia! Tunggu! ” Fania jadi telur busuk yang ketinggalan.

Fobos dan Dione sudah sampai didepan kelas sepuluh dua, mereka segera memasuki kelas yang bukan tempat hunian mereka. Sedang Fania, baru sampai dengan nafas yang terengah-engah.

“Hadirin sekalian kelas sepuluh dua, ” teriak Fobos tak tahu malu, “kami hadir disini untuk menyelematkan teman-teman kalian yang malang. “

Tak terima dengan kedua murid yang petakilan tidak jelas ini, anak sepuluh dua berteriak kencang.

“Apaan woi?! Huuuu… “
“Shutt… tenang, saya tahu anda semua pasti fans saya, ” Dione tidak pernah malu memang.
“Hei, hei ada apa ini? ” tiba-tiba tanya seseorang yang baru saja masuk kedalam kelas, ia adalah Argo.
“Kita mau ngungkapin kasus Go, tenang aja gak akan lama, ” ujar Dione.
“Kasus Fania yang di kirimi surat kematian memang membuat geger satu kelas bahkan seangkatan, kami selalu Detektif Supernova ikut khawatir dengan kondisinya, ” menunjuk Fania yang sudah malu pake banget, “karena itu, hadirlah kami untuk mengungkapkan semuanya, dengan jelas dan gamblang!”

“Yakk! ” lanjut Dione, “apakah kalian semua penasaran dengan pelakunya? “
“Yakkk,” teriak semua orang.
“Baiklah, pelakunya ada di kelas ini,” mendengar itu, satu kelas langsung ribut saling menyalahkan, “sebelum kami mengungkapkan nya, ada baiknya untuk sang pelaku jujur dan meminta maaf kepada khalayak. “

Kelas tiba-tiba hening.

Dione dan Fobos tersenyum, “Tidak ada yang mau mengaku kah? Baiklah, kami akan ungkapkan. Pelakunya adalah malaikat tanpa sayap yang sering dielu-elukan oleh kalian semua. “
“Stop! Kalian berdua ngomong apa sih? Emang ada buktinya gitu? ” sergah Argo selaku KM, “jangan sampai ada orang tersakiti karena kesalahan kalian! “
“Weiss… Tenang Go, kita ada bukti kok, ” ucap Fobos, “sobatku Dione, silahkan persembahkan buktinya. “

Tiba-tiba, Dione sudah berada di belakang kelas dengan membawa sebuah kamera kecil. Ia berjalan seperti prajurit yang membawa benda berharga, yang dipertanggung jawabkan hidup dan mati. Kakinya mulai melangkah menuju proyektor, ia mengeluarkan Notebook kecilnya dan menyambungkan semua menjadi terhubung.
Dione memutar video yang dimuat lewat kamera kecil itu, telihat seorang lelaki dengan jaket kupluk merah berjalan masuk kedalam kelas yang kosong, ia menyimpan sesuatu di dalam tas Fania, sebuah surat lagi.

Ctak!!

Dione menghentikan video itu, “Bisa dilihat, pelaku itu datang lagi ke kelas dan menyimpan surat lagi. Bisa di cek Fania, ” titahnya.
Fania mengangguk dan berjalan ke arah tasnya. Ia begitu terkejut dengan surat yang kini ada dihadapannya, termasuk satu kelas yang kembali ricuh.

“Tepat sekali, mari kita ungkap sekarang! ” teriak Fobos, ia menarik seseorang yang kebetulan ada di dekatnya.
“Hah?! Itu tidak mungkin!! ” teriak satu kelas termasuk Fania.
“Argo, mengakulah akan perbuatanmu sekarang! ” titah Fobos.
“Haha… ” Argo malah tertawa, ia melepaskan pegangan Fobos yang mencengkram kuat tangannya, “apa maksud kalian? “

Dione kembali memutarkan video tadi. Selepas pria berjaket merah itu keluar dari kelas, seseorang yang ternyata Argo datang dengan seragam rapihnya dan tas yang ia ranselkan. Ada yang mengganjal kawan, ia berjalan sembari memasukkan jaket merah yang persis seperti yang dipakai pelaku.

“Hah? ” lagi-lagi mereka ribut.
“Apakah bukti itu cukup? ” tanya Fobos.
“Tidak, jaket seperti itu banyak di dunia ini, aku memang punya yang sama seperti itu, ” elakkan Argo.

“Baiklah, sepertinya hanya bukti itu yang kami miliki, ” Fobos kehilangan semangat, namun tiba-tiba, ia tersenyum penuh misteri, ” tapi Fania, kamu benar-benar tidak peka hingga membuat orang yang menyukaimu bertindak sejauh ini agar kamu memperhatikannya. “
Fania terkejut, “Apa maksudnya? “

“Ya, pelaku ini hanya mengancam agar kamu memperhatikannya. Kamu terlihat tidak menganggap keberadaannya, hingga dia tidak sanggup lagi untuk diam saja namun dia terlalu bodoh dan tidak bijak dengan cinta … “
“Cukup!!! ” teriak seseorang, “ya, memang aku pelakunya, kalian puas hah? “
“Argo? ” Fania terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut sang KM yang ternyata adalah pelakunya, padahal kemarin ia yang mengantarkan Fania menghadap kepala sekolah, apakah ini bagian dari rencananya juga?

“Ya, aku menyukaimu Fania, atas semua perlakuan baik yang aku berikan padamu tidak mendapatkan reaksi juga, akhirnya aku melakukan ini! ” ia terduduk bersimpuh sembari mengerang.

“Kamu salah menyikapinya Argo, ” ucap Dione, “ketahuilah wanita juga tidak semua peka dengan sinyal yang pria berikan. Fania adalah salah satunya, harusnya kamu menyatakan perasaanmu langsung bukan melakukan hal yang justru membuatnya takut, ” wejangan dari Dione untuk terakhir kali.

Fania benar-benar kecewa dengan Argo. Begitupun dengan Argo yang kecewa terhadap dirinya sendiri.

Tags
Baca Selengkapnya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker