ISMA – Pacaran dalam Islam tidak pernah dibenarkan. Islam melarang adanya pacaran di antara mereka yang bukan muhrim, karena dapat menimbulkan berbagai fitnah dan dosa.

Dalam Islam pacaran hukumnya haram. Oleh sebab itu, Islam mengatur hubungan antara lelaki dan perempuan dalam dua hal, yakni:

Hubungan Mahram

Yang dimaksud dengan hubungan mahram, seperti antara ayah dan anak perempuannya, kakak laki-laki dengan adik perempuannya atau sebaliknya. Oleh karena yang mahram berarti sah-sah saja untuk berduaan (dalam artian baik) dengan lawan jenis.

Sebab, dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 23 disebutkan bahwa mahram (yang tidak boleh dinikahi) daripada seorang laki-laki adalah ibu, nenek, saudara perempuan (kandung maupun se-ayah). Bibi (dari ibu maupun ayah), keponakan (dari saudara kandung maupun sebapak), anak perempuan (anak kandung maupun tiri). Ibu susu, saudara sepersusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan.

Dalam hubungan yang mahram, wanita boleh tidak memakai jilbab tapi bukan mempertontonkan auratnya.

Hubungan Non-mahram

Selain dari pada mahram, artinya laki-laki dibolehkan untuk menikahi perempuan tersebut. Namun, terdapat larangan baginya jika berdua-duaan atau bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Untuk perempuan, harus menggunakan jilbab dan menutup seluruh auratnya jika berada di sekitar laki-laki yang bukan mahramnya tersebut.

Hukum Pacaran dalam Islam

“Pacaran dalam Islam tidak boleh kecuali yang dimaksud itu setelah akad nikah. Dalam Islam yang diajarkan untuk memiliki hubungan atau ke tahap nikah itu melalui ta’aruf,”

Tetapi di zaman sekarang ini bukan hanya remaja saja yang berbuat demikian, karena orang dewasa pun banyak yang melakukannya.

Sedihnya, budaya pacaran itu bahkan sudah menancapkan akarnya pada anak-anak belia yang masih duduk dibangku sekolah dasar berseragam merah dan putih. Sungguh miris sekali.

Sebetulnya, budaya pacaran itu adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia akibat dari pada globalisasi, karena filter yang kurang. Akhirnya banyak yang ikut terjerumus dalam budaya tersebut.

Padahal, harusnya diketahui bahwa pacaran tidak lain adalah perbuatan dosa yang ujungnya akan mendekati kepada zina yang merupakan dosa besar.

Lalu bagaimana tentang memilih dan mencari jodoh jika kita tidak mengenal terlebih dahulu, bukannya dengan pacaran kita dapat mengenalnya?

Perkara jodoh kamu bisa memilih yang mapan, tampan, gagah, cantik, baik hati, baik akhlaq, berpendidikan, berilmu, berpangkat, dan bahkan keturunan orang-orang yang menurutmu, oke.

Eissttt, tetapi Jodoh bukan perkara mencari yang banyak kelebihannya. Tapi tentang siapa yang bisa tulus mencintai meski kamu banyak kekurangan.

Bukan pula tentang mencari yang tampan atau cantik, tapi tentang siapa yang mau bertahan meski keadaan sangat tidak memungkinkan.

Jodoh itu penyempurna dari ketidak sempurnaanmu. Maka carilah yang benar-benar bisa membuatmu sempurna saat bersama. Jadi kita jangan khawatir masalah jodoh, karena Allah telah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan.