ISMA – Hallo sahabat ISMA, kali ini saya akan membahas tentang bahaya Smiling Depression atau depresi tersenyum. Smiling depression bukanlah istilah medis namun lebih kepada istilah populer. Smiling depression memiliki istilah lain, yaitu asymmetric smile atau fake smile. Mungkin sebagian orang pernah melukan hal ini untuk menutupi masalah yang dialami.

Smiling depression adalah ketika seseorang memasang senyuman di wajahnya, padahal ia sedang delaing dengan gejala depresi yang dialaminya. Menurut World Heart Organization (WHO) dalam publikasinya pada 2012, karena sifatnya yang antitesis atau berkebalikan, maka semakin sulit bagi psikolog untuk mendiagnosis seseorang mengalami smiling depression. Hal ini akan diperparah ketika seseorang memasang senyuman dengan alasan :

  1. Tidak mau menjadi beban bagi orang lain.
    Seseorang yang dengan gejala atau yang sudah didiagnosis mengalami depresi, sering kali merasa kehidupannya adalah sebuah kesalahan.
  2. Malu dengan kondisinya.
    Ada stigma yang maish melekat erat dilingkungan kiat, bahwa orang dengan gangguan mental adalah gila, dan akhirnya stigma itu menetap pada diri kita. Karena itu, banyak orang-orang yang masih mempercayai stigma itu. Dan akhirnya menutup kelemahan, ketidakberdayaan, rasa sakit dan semua penderitaannya dengan senyuman.
  3. Menolak untuk butuh bantuan karena tengah tidak baik-baik saja.
    Misalkan ada seorang pria yang tengah mengalami problem yang menurutnya sangat berat. Namun ia tidak ingin kelihatan bersedih dan cengeng dihadapan orang lain. Padahal tidak ada salahnya bagi seorang pria untuk menangis dan tidak ada salahnya dengan membutuhkan bantuan. Bukankah kita makhluk bumi diperintahkan untuk saling tolong menolong? Seorang pria boleh merasa lemah dan merasa tidak baik-baik saja.

    Hindarilah berpura pura karena hal tersebut akan menambah beban dan menyakitimu. Cobalah sedikit terbuka, siapa tahu ada yang mampu menolongmu.

Gejala Depresi Tersenyum

Sebagai salah satu dari sub dari depresi, tentunya smiling depression juga mengalami gejala yang serupa dengan depresi pada umumnya, yaitu:

  1. Perubahan nafsu makan, berat badan, dan tidur.
  2. Kelelahan
  3. Perasaan putus asa, kurangnya harga diri, dan harga diri rendah.
  4. Kehilangan minat atau kesenangan dalam melakukan hal-hal yang dulu dinikmati.

Namun, meski mengalami gejala tersebut pengidap smiling depression justru terlihat sangat normal di depan umum, tapi sangat bahaya. Bahkan cenderung mereka lebih aktif, ceria, optimis dan memiliki kehidupan sosial yang normal seperti orang orang pada umumnya. Berikut adalah hal-hal yang memicu terjadinya smiling depression:

  1. Perubahan besar dalam hidupnya
  2. Smiling depresion dipicu oleh suatu situasi Pergolakan batin Seseorang yang merasa mereka akan diadili karena adanya gejala depresi mereka akan lebih memiluh menggunakan topeg dan menyimpan kesedihannya untuk diri mereka sendiri. Kondisi ini lebih rentan terjadi pada pria yang terkukung pada prinsip maskulinitas, bahwa pria selayaknya harus kuat dan tidak boleh menangis.
  3. Media sosial
    Alih alih hanya sebagai saran komunikasi, media sosial banyak dijadikan untuk memamerkan kehidupan yang baik-baik saja. Sedangkan hal buruk hanya disimpan sendiri saja. Secara perlahan hal ini akan membuka banyak peluang yang luas untuk tumbuh suburnya smiling depresion.