Cuci tangan, merupakan kebiasaan sederhana yang paling dikampanyekan diberbagai belahan dunia guna mencegah penyebaran virus corona penyebab Covid-19.

Menjaga kebersihan memang penting, dan air menjadi penunjang utama untuk kegiatan itu. Jika kita tidak berhemat menggunakan air, akan timbul masalah baru yaitu kelangkaan air bersih.

Kabar tidak menggembirakan karena ditengah pandemi Covid-19 masih saja ada orang-orang yang kesusahan air bersih.

Dilansir dari AFP, kekhawatiran terebut benar-benar nyata. Sebab menurut UNICEF, hampir 18 juta orang termasuk 9,2 juta anak tidak mendapatkan akses terhadap air bersih di Yaman.
Masalah ketersediaan dan akses air bersih memang jadi problem sejak lama.

Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
yang berada di DKI Jakarta menjadi pihak yang paling terdampak akibat merebaknya virus Covid-19 ini.

Dampak yang signifikan yaitu pelayanan mendapatkan air bersih, dimana banyak sebelumnya dari kalangan MBR tidak dapat berlangganan pada Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya.

Koalisi Masyarakat Menolak Swatanitasi Air Jakarta (KMMSAJ)
menyebutkan, akibat ketiadaan pasokan air bersih kalangan MBR harus membeli air bersih kepada penjual eceran.

Dalam kondisi sulit ini, setiap hari rupiah yang harus dikeluarkan tidaklah sedikit, karena menyesuaikan dengan jumlah anggota dalam keluarga (KK).

Pemerintah provinsi DKI Jakarta seharusnya memberikan jaminan ketersediaan air bersih
untuk warga MBR yang jumlahnya tidak sedikit.

Melalui keterangan resmi yang dikirimkan pada Mongabay, Minggu (22/03/2020), KMMJ mengakatan bahwa hingga saat ini warga MBR diberbagai wilayah DKI Jakarta belum bisa mengakses air bersih.

Itu berarti, hak konstitusional atas air oleh negara hingga sekarang belum mereka dapatkan.

Jangan sampai dalam kondisi kondisi darurat sekarang, pengelolaan air bersih masih dilakukan dengan cara swastanisasi melalui peran distributor air bersih.