ISMA – Puisi tentang perasaan memang selalu bikin terbawa perasaan atau baper. Terlebih, jika puisi tersebut merupakan isi hati atau mewakili perasaan kita terhadap suatu hal atau seseorang yang dicintai. Berikut, ISMA rangkum lima puisi karya pelajar MAN 1 Cianjur.

Rasa yang Salah
Oleh : Annisa Nanda (XI IPS 1 MAN 1 Cianjur)

Sehebat apapun usahakhu,
Sebanyak apapun namamu dalam doaku,
Seperih apapun perjuanganku.
Akhirnya akan sama.

Aku tak akan pernah menjadi seseorang yang kau impikan.
Menjadi seseorang yang hatinya kau simpan,
Raganya kau jaga dan seseorang yang rasanya kau rawat.

Menjadi seorang sahabat menyenangkan memang.
Tapi menjadi seseorang yang kau dekap pasti jauh lebih membahagiakan.
Kupikir mencintaimu saja sudah cukup.
Melihatmu tertawa meski dengannya sudah membuat aku lega.

Tapi aku salah.
Tentang rasa, logika memang selalu kalah.
Aku ingin lebih dari itu.

Di Penantian Senja
Oleh : Detyani Aulia Malik (XII IPS 3 MAN 1 Cianjur)

Diujung senja,
Aku berdiri dibawah langit ini
Menatap camar yang berarak pulang
Wajah langit seakan memucat
Ketika sang angin terlepas dari pasungan
Dibawah ini senja ini,
Aku pernah bersamamu
Sampai sang senja melirik cemburu
Dilangit ini,
Aku pernah bercerita tentang kesetiaanku
Tentang penantianku
Ditepi senja yang mulai beranjak pergi ini
Kutitipkan sepotong rindu
Wahai senja
Katakanlah bahwa aku selalu menjaga rasa ini
Sampai aku tertidur pulas dipangkuan sang waktu

Waktu
Oleh : Detyani Aulia Malik (XII IPS 3 MAN 1 Cianjur)

Waktu berlalu begitu cepat
Teringat akan masa lalu yang begitu singkat
Kepingan memori terputar cepat didalam ingatan

Terputar begitu saja bagaikan film singkat
Kepingan yang semu namun menyayat hati
Teringat akan canda tawa bersama
Teringat kebersamaan yang begitu hangat

Sederhana namun penuh kebahagiaan
Tetapi…
Semua itu telah sirna dilahap oleh waktu
Kini ku sendiri seperti tanpa arah

Tawa hanya sekedar tawa untuk menutupi luka
Tersenyum hanya untuk menutupi kesedihan
Namun…
Sekarang semua aku jalani dengan semangat

Karena aku yakin aku tak sendiri
Ada Dia ya Dia Allah yang selalu bersamaku
Dialah yang selalu bersamaku tanpa adanya,
Penghianatan..

Jiwa yang Sepi
Oleh : Detyani Aulia Malik (XII IPS 3 MAN 1 Cianjur)

Aku berdiri di muka bumi ini seorang diri.
Menjalani hidup tanpa arti.
Aku hidup namun jiwaku mati.

Bagaikan tidur ditelan mimpi.
Aku hidup seperti mati.
Bagaikan berbaring tetapi berdiri.
Aku hidup seperti mati.

Memaksa diri untuk berlari.
Namun hanya untuk menepi.
Aku hidup seperti mati.
Bagaikan mendengar tetapi tuli.

Bosan, sepi, sendiri tak ada yang menemani.
Badan berdiri jiwa berbaring akal pikiran tiada arti.
Berjalan melalui hari tanpa arah tanpa hati.
Bait demi bait sajak ini terasa sunyi.

Kelam ditengah kehidupan.
Gelap di sudut kegelisahan.

Menjadi Manusia
Oleh : Annisa Nanda (XI IPS 1 MAN 1 Cianjur)

Menjadi manusia tidak menjadikanku diperlakukan selayaknya manusia.
Diberikan tubuh tidak lantas membuat aku dipeluk.
Aku hanya minta dimengerti,dihargai dan dicintai.
Aku diberi telinga oleh-Nya bukan untuk mendengar cacimaki.
Diberi-Nya dua mata bukan untuk terus-terusan mengeluarkan airmata.
Aku memang hina, tapi bukan berarti kalian sempurna.
Kita ini sama, manusia.
Lantas, untuk apa kita saling mencela?

Biarkan semua bahagia.
Kau dengan pemikiranmu.
Aku dengan segala upaya.
Beragam bukan berarti harus saling menikam.
Lebih baik, beragam untuk saling menggenggam.

Itulah, lima puisi tentang perasaan yang bisa banget bikin kamu baper. Bagimana? Bagus, bukan? Puisi memang masih menjadi primadona dalam mengungkapkan isi hati.(*)