ISMA – Salam sastra sahabat, kali ini masih dengan puisi karya Taufik Ismail yang melegenda, di sini saya akan mengulas puisi beliau yang berjudul Kalian Cetak Kami jadi Bangsa Pengemis. Penasaran apa yang di ungkapnya, yuk kita simak!

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini

Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni

Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita

Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama

Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti

Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi

Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya

Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi

Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk
dengan puisi ini

Mengulas Puisi

Pada baris ke satu, penulis mengungkapkan “Kami generasi yang sangat kurang percya diri” artinya generasi ini adalah generasi yang memiliki kepercayaan diri rendah.

Pada baris ke lima dan enam, penulis menjelaskan sebab mengapa generasi bangsa ini memiliki kepercayaan diri yang rendah. Sebab, pewarisan nilai yang dipaksa tekankan dari generasi sebelumnya, yaitu budaya meminjam uang ke mancanegara.

Selanjutnya, Pada baris ke dua belas, “sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi” artinya budaya meminjam ini sama saja dengan mengemis yang membuat bangsa kita rendah dimata dunia.

Lalu, Pada baris ke tujuh belas dan delapan belas, penulis mengungkapkan “Harta kita mahal tak terkira,harga diri kita”, “Digantung di etalase kantor pegadaian dunia” artinya budaya meminjam ini, mengorbankan harta kita yang paling berharga, yaitu harga diri yang seolah digantung di etalase pegadaian dunia.

Baris Selanjutnya

Kemudian, Pada baris ke dua puluh enam, “Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni” artinya tanpa sadar kita dijajah kembali dengan cara halus. Karna harga diri kita yang digadaikan, kita diperlakukan semena-mena oleh mereka. Kita digerakkan bagai boneka yang dimainkan.

Dibaris ke tiga puluh tiga, “Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutan” artinya kita bangsa ini terperangkap dalam hutang yang membludak.

Dibaris ke tiga puluh sembilan, “Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi” artinya tanpa sadar, karna kita tidak mau dianggap bangsa yang miskin tak berharta, kita meminjam uang bangsa lain, membeli barang-barang mereka, terobsesi barang infor negeri lain, membuat kita boros karna gengsi dianggap bangsa yang miskin.

Pada baris ke empat puluh lima dan empat puluh enam, “Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya”, “Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami” artinya dari semua problem yang kita hadapi, membuat kita menjadi bangsa yang tidak percaya pada kemapuan dan kekayaan sumber daya alam kita.

Pada baris ke empat puluh tujuh, empat puluh delapan, dan empat puluh sembilan, “Kalianlah yang membuat kami jadi begini”, “Sepatutnya kalian kami giring ke lapang sepi”.

“Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini” artinya penulis mengungkapkan generasi sebelumnyalah yang membuat generasi muda penerus bangsa ini menjadi generasi yang tidak percaya pada kemampuan diri dan kekayaan alam negeri ini.

Sepatutnya kami generasi muda mencambuka kalian dengan tiga puluh ribu kali puisi untuk membuat kalian sadar.

Kesimpulan

Sahabat, betapa mirisnya kenyataan yang seolah menampar kita. Dari ulasan puisi diatas, kita tau budaya meminjam uang ke negara lain telah ada sejak dulu dan sampai sekarang masih menjadi permasalahan.

Namun, permasalahan ini jangan membuat kita saling menyalahkan. Siapa yang patut disalahkan? Jawabanya tak ada semua salah. Karena dengan saling menyalahkan buakn membuat permasalahan ini selesai namun akan membuat negeri ini pecah belah.

Sahabat, kita sebagai generasi muda memiliki tanggungan untuk memajukan negeri ini. Kita harus bangkit dan dan memajukan negeri ini dengan segudang prestasi dan karya yang kita miliki dan hentikanlah budaya meminjam uang kemancanegar ini.

Terima kasih telah ikut mengulas puisi Taufik Ismail berjudul Kalian Cetak Kami Jadi Bangsa Pengemis.