PUISI

Mengulas Puisi Kopi Menyiram Hutan Karya Taufik Ismail

Oleh: Julfa Muharomatunnisa Julfa (Kelas X MIPA 5 MAN 1 Cianjur)

ISMA – Salam sastra sahabat, kali ini saya akan mengulas puisi yang berjudul ‘Kopi Menyiram Hutan’ karya Taufik Ismail (1988). Taufik Ismail adalah seorang penyair dan sastrawan asal Indonesia yang bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Penasaran apa yang diungkap dalam puisinya? Mari kita ulas!

Kopi Menyiram Hutan
Tiga juta hektar
Halaman surat kabar
Telah dirayapi api
Terbit pagi ini
Penjang empat jari
Dua kolom tegaklurus
Dibongkar dari pik-ap
Subuh dari percetakan
Ditumpuk atas jalan
Dibereskan agen koran
Sebelum matahari dimunculkan
Dilemparkan ke pekarangan
Dipungut oleh pelayan
Ditaruh di meja makan
Ditengok secara sambilan
Dasi tengah diluruskan
Rambut isteri penataan
Empat anak bersliwearan
Pagi penuh kesibukan
Selai di tangan
Roti dalam panggangan
Ketika tangan bersilangan
Kopi tumpah di bacaan
Menyiram tiga juta hektar koran
Dua kolom kepanjangan
Api padam menutup hutan
Koran basah dilipat empat
Keranjang plastik anyaman
Tempat dia dibuangkan
Tepat pagi itu
Jam setengah delapan.

Taufik Ismail

Ulasan Puisi Kopi Menyiram Hutan Karya Taufik Ismail

Pada baris pertama, penulis mengungkapkan “Tiga juta hektar” artinya tiga juta hektar hutan. Baris kedua “Halaman surat kabar” sura kabar menjelaskan bahwa dari hutan yang berjuta hektar tersebut, dibuatlah koran atau surat kabar yang kemudian terbit pagi hari dari percetakan.

Pada baris ke sebelas dan dua belas, penulis menjelaskan bahwa koran yang sudah dicetak, sebelum matahari terbit telah disebar ke setiap pekarangan rumah yang kemudian dibaca sambilan dipagi hari yang penuh kesibukan.

Pada baris ke dua puluh tiga, penulis mengungkapkan “Kopi tumpah di bacaan” artinya koran yang sedang dibaca terkena tumpahan kopi. Baris ke dua puluh empat, “Menyiram tiga juta hektar koran” menjelaskan seolah tumpahan kopi tersebut menyiram jutaan hektar hutan yang digunakan untuk membuat koran tersebut.

Pada baris ke dua puluh sembilan, “Tempat dia dibuangkan” artinya koran yang terkena tumpahan kopi tersebut dibuang ke tempat sampah seolah tidaka ada artinya.

Jadi dalam puisinya, penulis menceritakan koran yang setiap pagi diantar kesetiap pekarangna rumah, padahal koran tersebut dibuat mengorbankan jutaan hektar hutan seolah tidaka ada artinya ketika koran tersebut terkena tumpahan kopi yang kemudian dibuang begitu saja.

Pesan dalam Puisi Kopi Menyiram Hutan Karya Taufik Ismail

Sahabat, hal sepele ternyata bisa berdampak besar. Contonya seperti ulasan puisi diatas. Bila dilihat, membuang koran yang terkena tumpahan kopi terlihat seperti hal sepele.

Padahal bila dilihat bagaimana koran tersebut dibuat seolah kita mengorbankan dan menyinyiakan hutan yang berjuta-juta hektar. Sama halnya dengan kertas, kertas juga dibuat dari serat pohon.

Jadi, kita jangan buang-buang kertas ya! Karna itu sama saja kita sedang menyianyiakan hutan yang menjadi tempat bergantungnya kita pada oksigen.

Baca Selengkapnya

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker