Oleh: Maharani X IPS 1

ISMA-Waktu pembagian rapot akhir semester atau kenaikan kelas, kalian pernah gak nemu deretan nama yang masuk peringkat sepuluh besar kelas itu, kebanyakan perempuan? Atau mungkin perempuan semua?

Saya disini berada dipihak cewek, tentu saja. Tapi saya pernah mendengar orang lain mengatakan, kalau cewek itu hanya menang rajin dan gak cerdas banget.

Jika dibandingkan kecerdasan cewek sama cowok, dimana-mana tetep lebih unggul cowok. Mayoritas dari mereka hanya malas.

Cewek itu pemikirannya lebih dangkal, lebih pendek tapi gengsi kalau kesaing sama pihak cowok.

Jadi jangan heran, jika jumlah anak perempuan lebih  mendominasi disepuluh besar. Biarpun cuma kuantitas. Semakin rajin, cewek semakin pintar. Pintar ngambil hati guru, karena mereka gak mungkin tega ngasih nilai rendah ke murid yang rajin apalagi sopan.

Kalau persaingan perolehan nilai, coba bandingkan cowok yang peringkat pertama terus yang keduanya itu cewek, biasanya selisihnya jauh.

Sementara selisih nilai cewek ke cewek bedanya dikit doang, paling cuma beberapa angka atau bahkan nol koma sekian.

Tapi eh tapi… itu hanya pendapat orang lain. Kalau saya sih kurang setuju, karena pernyataan diatas terlihat seperti meragukan kapasitas otak perempuan.

Meskipun anak laki-laki itu sulit dikalahkan, tapi perempuan itu tekun.

Cuma mau ngasih tahu kalau hasil yang didapat para anak perempuan berupa kecerdasan itu gak instan, perlu proses panjang. Gak cuma cewek aja sih, tapi juga semua orang.

Terus ada temanku yang protes, katanya. “Sodaraku, dia gak pernah kelihatan belajar, merhatiin guru juga belum tentu, apalagi ikut bimbel, tapi dia tetep pinter. Selalu masuk peringkat tiga besar dikelasnya, berarti emang udah pinter dari sananya.”

Itu cuma kelihatannya saja, kan? Kalau aslinya? Siapa yang tahu.

Sahabat ISMA, orang yang kelihatannya gak pernah belajar, belum tentu gak belajar.

Mungkin aja dia udah nemu metode belajar yang sesuai dan belum tentu sama dengan punya kita. Bahkan buat orang jeli, dengerin musik, nonton film, nonton Youtube, main sosmed, cuma merhatiin orang lalu lalang, itu bisa jadi kegiatan belajar. Belajar gak harus selalu pakai buku.

Menurut saya, peringkat itu tidak terlalu penting. Itu hanya bonus dan predikat semata, yang penting itu ilmu kita terus bertambah dari berbagai aspek, dan bisa bermanfaat bagi orang lain.