ISMA – Putus asa mengejar cinta boleh galau, tapi berhenti berkarya jangan, puisi ini menjadi saksi. Saksi tentang betapa perihnya putus asa, puisi ini adalah luka yang tertulis, darah berwarna hitam, dan pisau bermata pena.

Untukmu yang pernah aku kagumi
Mungkin kau hanya diam tak mengetahui
Kau tak pernah tau, aku diam-diam mengagumi
Kau tak pernah tau, aku selalu mencuri-curi

Kau tak pernah tau, aku juga diam dikala tersakiti
Kau tak pernah tau, aku tersenyum saat kau dekati
Dikala malam sunyi
Aku berdoa pada sang Ilahi

Kau yang ku panjatkan, saat ketentraman jiwa merasuki
Hati yang bertuahkan harap, namun ku tak ingin ada yang tersakiti
Sungguh, kau pantas dikagumi banyak hati
Namun…

Semua itu sirna
Disaat ku tau kau telah memilihnya
Mungkin aku lah yang pertama kali menyerah
Dari sekian banyak hati yang mengagumi sesosok dirimu

Jangan tanyakan aku, apakah baik – baik saja?
Jelas! Aku meringkih tersakiti
Tapi tak apa aku masih bisa senyum berseri
Satu hal yang kudapat dari sepenggal alur ini

Tak setiap yang hati inginkan bisa dimiliki
Namun, hanya bisa dikagumi seperti senja yang indah menaut hati
Tetapi sulit untuk digapai jemari

Sani Mulyawati (XI MIPA 1 MAN 1 Cianjur)