ISMA – Muara rindu adalah temu tapi sayangnya tak semua orang bisa merasakan temu dikala rindu yang menggebu. Puisi ini menggambarkan perasaan rindu seseorang ditengah ketidakpastian, dilema antara memilih bertahan atau melepaskan.

Penyintas

Tahun berlalu,
Bersama kisah yang semakin semu.
Kuharap semuanya terjaga
Sebagaimana mestinya

Langit yang menjingga
Membawa ku pada seorang pengembara
Penikmat sandyakala
Yang mencintaiku sepenuh raga
sebuah euforia yang berujung kenestapaan

Kupejamkan mata,
Bersumarah…
Perihal pilihan
Perkara keberanian
Teguh meski tahu kamu hanya singgah,
Bukan menetap

Hanya bertali pada setiap janjimu
Barangkali kamu hanya tersesat
Barangkali kamu tak menemukan dermaga yang tepat
Barangkali kamu menaiki kereta yang salah

Aku meragu
Ataukah…
hanya aku yang merindu?
Yang membutakan mata pada setiap ketidakpastian
Sebab aku bukanlah kamu yang hanya mampu berucap

Tangisku menderu,
Hai Rindu, masihkah kau bertahan?