ISMA, Cianjur – Tarif Ojek Online (Ojol) di Jabodetabek resmi naik mulai Senin, (16/03/2020). Penumpang biasanya menggunakan ojol sebagai transportasi utama, kini harus membayar lebih mahal. Kenaikan itu menuai berbagai tanggapan dari para pelajar

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi mengerek Tarif Batas Atas (TBA) sebesar 250 per kilometer (km) dan dan tarif Batas Bawah (TBB) 150 per km.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, mematok tarif batas bawah meningkat dari Rp 2.000 per km menjadi Rp 2.250 per km.

Siti Zaenab Putri Yunita misalnya, siswi SMAN 1 Cianjur, menyatakan tidak setuju dengan keputusan tarif ojol naik. Ia mengatakan, uang saku pelajar tidak banyak.

“Belum untuk keperluan lainnya, apalagi kalau misalkan jarak nya jauh, pasti nambah mahal. Saya berharap ada keputusan lagi mengenai hal itu,” ujarnya saat diwawancara, Rabu (18/03/2020).

Selain itu Siswi SMK Ar Rahmah Waffa Khoirunnisa mengatakan, ketika mengetahui tarif ojol meningkat, itu memiliki sisi positif dan negatifnya tersendiri. Ia pun menambahkan, padahal selama ini ojol adalah jalan alternatif untuk menghindari kemacetan lalu lintas.

“Tapi di sini sebagai pelajar sedikit kecewa dan keberatan terhadap kenaikan tarif tersebut, sebab tak semua pelajar diberi jatah uang jajan bisa melebihi 20 ribu seharinya. Bagaimana bila uang jajan seorang pelajar seharinya hanya diberi 10 ribu atau 15 ribu? Lalu uang jajan tersebut akan habis hanya untuk biaya ongkos ojol itu,” ucapnya.

Selain itu, menurut siswi MAN 1 Cianjur Aprinda Alecia Zein, tidak setuju dengan kenaikan tarif itu karena harganya meningkat drastis jadi melonjak tinggi harganya terutama bagi pelajar.

“Kalau saya pasti mikir-mikir lagi kalo mau naik ojol teh soalnya harganya berkali lipat dari naik angkutan umum,” ucapnya.

Setuju-setuju Saja Dinaikan

Selain itu salah seorang Siswi SMA Al Ma’moen, Cempaka Gunaya mengatakan, untuk kenaikan harga ojol setuju-setuju saja, karena itu udah jadi keputusan menteri, dan sekarang semua kalangan membutuhkan jasa ojol.

“Tetapi harus ada penyesuaian sama kesepakatan terlebih dahulu, jangan sampai pihak yang satu diuntungkan dan yang satu dirugikan”, ucapnya.

Sama halnya salah satu siswi MAN 1 Cianjur, Rifa Salsabila. Ia mengatakan kenaikan harga wajar saja karena itu sudah sesuai dengan fasilitas atau dengan kecepatan pengemudi untuk menjemput penumpang.

“Jadi wajar saja bila kenaikan harga melonjak, tapi ada juga promosi menjadikan penumpang untuk lebih murah membayarnya. Ojol juga sangat membantu untuk mempercepat waktu. Dan mempermudah ketika sedang cepet-cepet untuk berangkat sekolah, jadi ya wajar ada kenaikan harga,” katanya. (Neng Dini)